Kerajaan Pucangsula, sebuah peradaban Lasem yang hilang

Mencoba menulis ulang artikel yang saya unggah di wikipedia, dulur. Selamat membaca.

Kerajaaan Pucangsula adalah kerajaan kuno yang terletak di Nusa Kendeng Argapura (Pulau kuno yang lepas dari Nusa Yawapegwan), sekitar tepi barat Pegunungan Lasem Argapura.

Raja-raja

  1. Dhatu Hang Sam Badra yang terkenal sebagai pendeta Kanung yang mengajarkan kepercayaan suci Hwuning terutama tentang Endriya pra Astha kepada murid-muridnya di Pertapaan Argasoka, Gunung Tapaan. Dia memiliki 2 putri yang cantik dan tangguh, yaitu Dewi Sibah (Sie Ba Ha) dan Dewi Simah (Ratu Shima, raja Kalingga.
  2. Dattsu Sie Ba Ha (Dewi Sibah) dia adalah armada laut (laksamana) wanita pada masa pemerintahan Hang Sam Badra. Dia terkenal kejam dan bengis kepada perompak di Lautan Pucangsula, terutama perompak laki-laki yang tampan. Dia akhirnya menjadi istri dari Rsi Agastya Kumbayani (Haricandana) dan memiliki seorang putra bernama Arya Asvendra. Pada masa pemerrinahan dia, Pucangsula mencapai masa kejayaan. Endriya pra Astha diperkukuh di dalam undang-undang, pembangunan tempat suci, dan pertambangan belerang di Baturetna terjadi di zaman Dewi Sibah.
  3. Arya Asvendra, dia adalah putra Rsi Agastya Kumbayani dan Dewi Sibah. Pada masa pemerintahan dia, dibangun pasraman/tempat suci di Bukit Gebang (Butun) dan mensikretiskan ajaran Hwuning dari kakeknya (Sam Badra) dan ajaran Siwa dari ayahnya (Rsi Agastya). Ini dibuktikan dengan adanya penemuan patung Lembu Nandi dan arca Ganapati (Ganesha) di Bukit Gebang, sebelah tenggara Pertapaan Argasoka. Dia wafat di depan candi Sumbadra (Dieng) saat terjadi Tragedi Belerang antara wong Baturretna dan wong Keling (Kalingga) di Dieng untuk memperebutkan hak pertambangan belerang (untuk diekspor), belapati terhadap kaumnya dan ayahnya. pu chang su lao

Anak Arya Asvendra adalah Arya Untaka yang diselamatkan oleh patihnya Arya Asvendra, kelak anaknya ini dijadikan raja di Hangjuruhan (Kanjuruhan) dekat Kali Brantas sampai Singosari. Pada masa Kanjuruhan, Raja Gajayana membuat tempat suci pemujaan yang sangat bagus guna memuliakan Rsi Agastya. Sang raja juga menyuruh membuat arca sang Rsi Agastya dari batu hitam yang sangat elok, sebagai pengganti arca Rsi Agastya yang dibuat dari kayu cendana oleh nenek Raja Gajayana.

Pemecahan Wilayah

Kerajaan Pucangsula dipecah wilayahnya menjadi 3 pada masa pemerintahan Hang Sam Badra (Bhadrawarman):

  1. Pucangsula, berkuasa di sisi timur, dengan Dewi Sibah sebagai rajanya.
  2. Keling (Kalingga), berkuasa di sisi tengah dan Pulau Muria, dengan Ratu Shima sebagai rajanya.
  3. Baturretna, berkuasa di sisi barat sampai berbatasan dengan Sunda, dengan Rsi Agastya Kumbayani (Haricandana) sebagai rajanya.

Undang-undang Kerajaan

Setelah bertahun-tahun Raja Hang Sam Badra membabar ajaran Endriya Pra Astha dan para pendeta Kanung juga telah mengajarkan ajaran ini kepada masyarakat Pucangsula, akhirnya pada masa pemerintahan Dewi Sie Ba Ha (Sibah), Endriya pra Astha ini ditetapkan sebagai undang-undang kerajaan. Endriya Pra Astha ini berbunyi:

  1. Tunemen nyambut gawe ngudi rejeki kanggo murakabi Brayate, lan ora srei drengki kemeren ning liyan. (bersungguh-sungguh dalam bekerja mencari rejeki untuk kesejahteraan keluarga serta tidak boleh iri dengki terhadap orang lain).
  2. Nyembah mundhi-bekti ning wong tuwane-sakloron; sambat nyebut: Adhuh Sembooooook, Gusti kula! (=Sembok kuwi wong sing bagus atine sa-ndonya), Adhuh Semaaaaaak, Pangeran kula! (=Semak/Bapak kuwi pangengerane wong sagotrah anak-bojone). (Berbakti kepada kedua orang tua).
  3. Ngleluri mundhi Pundhen Nyai-Dhanhyang Kaki-Dhanhyang sing cakalbakal desane. Sarta emoh nganggu Manuk-manuk sing padha manggon ning bregat Pundhen, utawa ning bregat-bregat liyane kana-kana. (Menghormati punden para leluhur yang menjadi cikal bakal desa serta tidak boleh mengganggu burung-burung yang tinggal di pohon besar sekitar punden atau pohon-pohon besar yang dianggap sakral di tempat lain).
  4. Sayuk rukun karo tangga-teparo lan sadulure, bebarengan gotong-royong ing wulan Purnama Badrapada; bresih desa, ratan, sendhang, karas pekarangan; sarta memetri nguri Bregat. (Hidup rukun dengan tetangga kanan kiri dan saudara, bersama-sama gotong-royong pada saat Bulan Purnama Badrapada untuk melakukan upacara bersih desa, membersihkan jalan besar, telaga/sendang, pekarangan, serta merawat pohon-pohon besar agar tetap asri lestari).
  5. Mangastuti rembugan nggathukake pinemu, kanggo pituduh mbangun majune Desane, lan njaga kaamanane. (Mendahulukan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan masalah, sebagai petunjuk untuk membangun kemajuan desa dan menjaga keamanan/ketenteraman desa).
  6. Nguri-uri ngluhurake Budipakarti Seni-Budaya Jawa. (Melestarikan dan meluhurkan budi pekerti seni budaya Jawa).
  7. Mikani ning Bumi dununge kabeh Titah kasinungan Sang Urip kang Maha Esa, mikani ning Langit dununge/ manunggale Urip Agung Sang Nyawa kang Maha Das. Wong mati ragane dadi Mayit lebur ing Bumi, Jiwane dadi Yitma nunggal ning Langit. (Menyembah kepada Yang Maha Esa dan ingat bahwa orang yang mati raganya akan melebur menjadi satu dengan bumi dan jiwanya akan manunggal di langit).
  8. Setya pranatane Negara lan Sabda wasitane Sesepuh Agung Manggala Praja. (Setia terhadap peraturan negara dan sabda para Sesepuh Agung Manggala Praja).

Dugaan Peninggalan

  1. Kompleks Candi Dieng, di dataran tinggi Dieng
  2. Reruntuhan Candi Pucangan di desa Sriombo
  3. Pasraman bukit Gebang (Butun), tempat pengajaran ajaran Siwa, di desa Warugunung
  4. Pasraman bukit Tapaan (Argasoka), tempat pengajaran ajaran Hwuning dan Buddha-Kanung, sebelah barat Vihara Tlueng (Sendangcoyo)
  5. Punden Tapaan, tempat bersemayamnya abu jenazah Hang Sam Badra dan Dewi Sibah, sebelah barat Vihara Tlueng (Sendangcoyo)
  6. Arca Lembu Nandini dan Arca Ganapati (Ganesha) di bukit Gebang
  7. Reruntuhan Candi Gebang di bukit Gebang
  8. Situs Kapal Kuno desa Punjulharjo (abad ke-7 M)
  9. Bekas tempat pabrik kapal di lereng Gunung Bugel, Dhak-Palwa/Palwadhak (desa Pohlandak sekarang)
  10. Desa/Dukuh Gepuro sebagai gerbang/gapura kotaraja (kini masuk desa Selopuro)
  11. Dukuh Pucangan desa Sriombo
  12. Dukuh Sulo desa Sriombo
  13. Dukuh Logading (Selogading) desa Sriombo

Referensi Acuan

  1. Naskah Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung
  2. Cerita-cerita setempat
  3. Arkeologi.web.id: misteri tokoh arya asvendra
Iklan
Dipublikasi di Heritage, Sejarah Lasem, Situs Pusaka Lasem | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Kekuwuan Lasem

Mencoba menulis ulang artikel yang saya unggah di wikipedia, dulur. Selamat membaca.

Kutha Lasêm-Argasoka atau Kekuwuan Lasem adalah nama sebuah kota kuno (kekuwuan) yang berdiri di bekas reruntuhanKerajaan Pucangsula pada abad ke-9, negeri Pucangsula diperkirakan hilang akibat bencana alam pada masa meletusnya Gunung Sangkapura di sebelah timur (Pulau Bawean) juga akibat meletusnya Gunung Muria di sebelah barat (Pulau Muria/Pulau Maura/Muryapada). Sebenarnya Kutha Lasem ini tidaklah yang pertama berdiri di tanah Nusa Argapura. Sebelumnya pernah berdiri Kedhatuan Tanjungputri yang terletak di utara-timur Pegunungan Lasem Argapura (sekitar desa Tanjungsari sekarang) dan juga Kerajaan Pucangsula yang terletak di pesisir barat Pegunungan Lasem yang terkenal dengan armada laut wanitanya yang kuat dan kejam. Tanjungputri menjadi desa kecil (penduduknya mengungsi/membuka desa baru di tempat lain) dan Kerajaan Pucangsula hilang akibat bencana alam. Kekuwuan Lasem menempati tanah bekas lautan di dataran rendah sebelah barat lereng Pegunungan Lasem yang mengalami pengendapan dan pendangkalan akibat bencana alam (gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor, sedimentasi). Kota kuno ini didirikan oleh Ki Welug yang bergelar Rangga dan mendapatkan nama kehormatan Widyabadra, sehingga orang menyebutnya Ki Rangga Widyabadra. Ia mendapat gelar tersebut karena menyelesaikan masa belajarnya di padepokan Gambiran oleh Bhikku Gam Swi Lang. Kekuwuan ini runtuh akibat serangan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada untuk menaklukkan daerah Lasem.

Nama

Menurut naskah Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanungyang ditulis oleh Mbah Guru, nama Lasem diambil dari nama Kamala dan Bekasem. Manisan buah Kamala dan olahan Bekasem ini diajarkan oleh Ki Welug (Mpu Rangga Widyabadra, meninggal tahun 920M) kepada masyarakat Banjar Karanggan dan sekitarnya (banjar=desa besar). Ada versi lain yang menyebutkan bahwa Lasem berasal dari kata Alas Asem, maupun versi lain yaitu Lasem berasal dari kosakata Tiongkok, Lao Sam; yang konon artinya adalah hutan jati karena memang dahulu sampai sekarang, Lasem terkenal sebagai penghasil kayu jati berkualitas tinggi.

Membuka hutan dan semak barat Argasoka

Setelah beberapa masa setelah meletusnya gunung di Sangkapura, Bawean, berbondong-bondong masyarakat Kanung (sangkan-gunung) dari daerah Criwik dan Sindawaya, rombongan ini turun gunung dan membuka lahan pemukiman di sebelah barat Pegunungan Lasem yang kala itu masih berupa rawarawa dan hutan belantara. Tokoh yang berperan penting dalam rombongan tersebut adalah Ki Wêkêl dan Ki Wêlug. Mereka adalah kakak beradik dan kemungkinan mereka adalah orang-orang berpengaruh di kalangan masyarakat Kanung di sekitar Dataran Criwik hingga Sindawaya. Alasannya, mereka yang memimpin suatu kelompok masyarakat apalagi di zaman kuno, adalah mereka yang berperan penting di dalam masyarakat, orang yang dituakan, orang bijaksana serta cerdas, disegani dan mereka yang dianggap mampu memimpin masyarakat agar menjadi lebih baik.

Saat sampai di dataran baru tersebut, rombongan pun akhirnya terbagi 2. Mereka yang ikut Ki Wêkêl membuka perkampungan di sebelah barat Sungai Lasem tepatnya di bumi Tegalamba-Karas, sedangan Ki Wêlug membuka perkampungan di barat Gunung Argasoka (Tapaan) tepatnya di bumi Sumbersili. Rombongan Ki Wêkêl mengadu nasib menjadi Tani-pokol, mereka menanam jagung-kodhok, kacang-tholo, dan télo-êlung. Perkampungan yang mereka dirikan ini disebut Têgalamba dan Karas (Karasmula, Karasgêdhé, Karaskêpoh).

Rombongan lain yang dipimpin oleh adik Ki Wêkel yaitu Ki Wêlug, enggan untuk membuka perkampungan terlalu jauh dari daerah asalnya. Mereka membuka kampung di sekitar lereng Gunung Bugêl dan Gunung Gêbang, serta daerah di lembah sebelah barat Peg.Lasem yang tanahnya banyak terdapat sumber mata air dan airnya menggenangi daratan sehingga menjadi rawa-rawa, di sini banyak terdapat ikan kutuk (ikan gabus) dan ikan sili yang ukurannya besar-besar. Dari sanalah, masyarakat tersebut menyebut daerah ini Sumbêrsili. Mereka hidup sebagai Tani-ngothèk, hidup dengan mengunduh buah-buahan yang ada di hutan, serta menangkap ikan-ikan di rawa-rawa. Menurut mereka, titah (manusia) itu sudah memiliki rejekinya sendiri-sendiri ketika terlahir di dunia ini; yang menanam jambu kluthuk itu Sêmut-gêtêm yang membawa biji jambu kluthuk lalu diletakkan di sarangnya di bawah batu. Codhot, Kalong, dan Kelelawar membawa buah-buah, pêlok, dan bêton, kemudian kotorannya berceceran sehingga biji yang mereka makan tersebut tumbuh di mana-mana. Maka, tak ada caranya orang-orang Tani-ngothèk itu untuk repot-repot menanam; pepohonan, buah-buahan, itu semua sudah tumbuh dengan sendirinya di mana-mana, ikan-ikan itu semua sudah berkembang biak dengan sendirinya. Manusia tidak perlu menanam maupun beternak ikan, tinggal mengambil saja yang alam berikan, tinggal mengunduh, tinggal memasang wuwu (bubu).

Dengan kedua pemikirannya yang berbeda, mereka berdua akhirnya membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Mengolah hasil alam, mensyukuri apa yang alam berikan kepada mereka, hidup berdampingan dengan alam, serta menjaga kelestarian alam di mana mereka hidup. Hamêmayu hayuning bawånå. Mereka hidup berdampingan, rukun, dalam suasana yang asri dan tenteram. Di tanah yang penuh dengan mata air yang melimpah, di tanah yang rawa-rawanya menyediakan ikan yang melimpah, di tanah yang menyediakan buah-buahan yang melimpah, di tanah yang subur dan memberikan hasil panen yang melimpah. Di tanah ini, beberapa masa ke depan, menjadi tanah yang membawa peradaban besar. Ya, di sinilah kelak Kota Lasem terlahir dan menjadi negeri yang menyimpan banyak cerita.

Ki Welug mendapat gelar kepujanggaan

Beberapa tahun sudah, Ki Wêlug tinggal di bumi Sumbêrsili. Kampung ini semakin lama semakin maju dan semakin ramai. Sekitar tahun 870 M, seseorang dari Negeri Siam mendarat di pesisir barat Gunung Argasoka, tepatnya di Sunglon èrèng-èrèngé Pongol pesisir tersebut dan membuat permukiman di sana. Seiring berjalannya waktu, kampung tersebut diberi nama Pèrèng. Dia yang datang dari |Thailand|Negeri Siam]] itu adalah seorang Bhikku Buddha bernama Gam Swi Lang. Ia dan masyarakat Kanung yang tinggal di situ kemudian membangun Sanggar dan Pasraman di daerah selatan Pèrèng, menghadap ke barat. Masyarakat menyebut Pasraman itu Gambiran, diambil dari nama Gam Swi Lang berubah pelafalan menjadi Gambiran. Eyang Gam Swi Lang mengajarkan ajaran BuddhaKanung. Rombongan Gam Swi Lang dan masyarakat Kanung banyak yang menikah dan hidup rukun berdampingan.

Pada tahun 880 M, tepatnya 10 tahun semenjak Eyang Gam Swi Lang mendarat di Pèrèng, Ki Wêlug menemui Bhikku Gam Swi Lang untuk belajar ilmu Agama Buddha dan ilmu-ilmu lainnya. Setelah mengenyam banyak ilmu dan dianggal lulus, Ki Wêlug diwisuda sebagai Pujangga dan mendapat gelar kapujanggan yaitu Mpu Widyabadra. Setelah pulang ke tempat tinggalnya, ia mengajarkan Ilmu-Karya kepada masyarakatnya. Orang-orang Sumbêrsili diajarinya membuat makanan unik, yaitu: 1. Manisan yang dibuat dariBuah Kêmala yang diberi gula; 2. Olahan lauk-pauk yang dibuat dari ikan rawa yang sudah dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam klêthing (wadah) ditumpuk-tumpuk bersama nasi jagung dan garam, kemudian diperam 5 hari sampai terjadi fermentasi dan baunya busuk. Makanan ini dinamakan Bêkasêm atau Masin.

Masyarakat membuatnya bothok dan dicampur dengan krambil muda yang sudah diparut, dijadikan lauk dimakan bersama nasi jagung dan sayur elung atau sayur asemkangkung. Setelah makan, mereka bersendawa sambil berseru, ” Hwaeeek… Aduh Sémboook sêgêré!!!” Kemudian mereka memakan manisan Kêmala sambil bersantai tanpa pakaian atas karena keringatnya gêmrobyos, diterpa angin semilir dari Gunung Bugêl, membawa aroma bungabunga yang harum menenangkan pikiran.

Orang-orang Tani-ngothèk Sumbêrsili diajak Ki Wêlug untuk membuat batu bata berukuran besar dibuat tembok untuk menanggul sumber mata air yang luber membanjiri desa. Air tersebut dialirkan menuju Sungai Sêmangu dan Kêmandhung lalu merembet ke Sungai Têgalamba dan menuju rawa Narukan. Selain itu, Ki Wêlug juga mengajarkan masyarakat menjadi Kundhi, membuat gerabah. Daerah tempat tinggal para Kundhi itu diberi nama Kundhèn. Selain itu, masyarakat juga diajarkan menjadi Pandhé, tempat tinggalnya diberi nama Pandhéyan. Wanita-wanita kampung Kundhèn diajari membuat Ampo (makanan dari tanah liat), yang bahan tanah liatnya didapat di sekitar Palwadhak (lereng utara Gunung Bugêl) yang terdapat lempung kete-kuning yang apabila dibuat Ampo rasanya agak gurih. Sementara itu, Tani-pokol Têgalamba diajarkan cara menanamPadi yang tanpa membutuhkan banyak air. Bibitnya didapat dari sumbangan orang-orang Siam, padi itu dinamakan Pari Gågå-rancah. Beras yang dihasilkan disebut Krōtōg.

Membangun Kutha Lasem-Argasoka

Orang-orang Tani-pokol dan Tani-ngothèk yang dipimpin Mpu Widyabadra tersebut merasa guyub dan senang sekali. Masyarakat lalu mengangkat Ki Wêlug Widyabadra menjadi Rangga, Pemimpin Karya. Dia lalu pindah dan membuat tempat tinggal baru yang dinamai Kêranggan. Tak menunggu waktu lama, desa tersebut menjadi semakin ramai seperti kota besar. Kemudian daerah itu dinamakan LASÊM. Ketika daerah itu ditetapkan menjadi KOTA LASEM di musim Bêdhidhing, diadakan upacara agung. MpuRangga Widyabadra membuat Candrasêngkala untuk mengingat momen tersebut, yaitu “Akarya kombuling manggala“. Akarya: 4, kombuling: 0, manggala: 8. (Membaca tahunCandrasengkala adalah dengan dibalik angkanya, jadinya adalah 804) Artinya KOTA LASÊM didirikan oleh Ki Wêlug Rangga Widyabadra pada tahun 804 Çaka (882 M). Mpu Widyabadra meninggal dunia pada tahun 920 M, dan abu jenazahnya disemayamkan bersama para leluhurnya di Pundhèn Tapaan, Gunung Argasoka (Tapaan).

Pemberontakan Ra Semi

Kidung Sorandaka menyebutkan pada tahun 1316 M ayah Patih Nambi yang bernama Pranaraja meninggal dunia di Lumajang. Tokoh Ra Semi ikut dalam rombongan pelayat dari Majapahit. Kemudian terjadi peristiwa tragis di mana Nambi difitnah melakukan pemberontakan oleh seorang tokoh licik bernama Mahapati. Raja Majapahit saat itu adalahJayanagara putra Raden Wijaya. Karena terlanjur percaya kepada hasutan Mahapati, ia pun mengirim pasukan untuk menghukum Nambi.

Saat pasukan Majapahit datang menyerang, Ra Semi masih berada di Lamajang bersama anggota rombongan lainnya. Mau tidak mau ia pun bergabung membela Nambi. Akhirnya, Nambi dikisahkan terbunuh beserta seluruh pendukungnyaKidung Sorandaka menyebutkan pada tahun 1316 ayah Patih Nambi yang bernama Pranaraja meninggal dunia di Lumajang. Tokoh Ra Semi ikut dalam rombongan pelayat dari Majapahit. Kemudian terjadi peristiwa tragis di mana Nambi difitnah melakukan pemberontakan oleh seorang tokoh licik bernama Mahapati. Raja Majapahit saat itu adalah Jayanagara putra Raden Wijaya. Karena terlanjur percaya kepada hasutan Mahapati, ia pun mengirim pasukan untuk menghukum Nambi.

Saat pasukan Majapahit datang menyerang, Ra Semi masih berada di Lamajang bersama anggota rombongan lainnya. Mau tidak mau ia pun bergabung membela Nambi. Akhirnya, Nambi dikisahkan terbunuh beserta seluruh pendukungnya, termasuk Ra Semi.

Pararaton menyebutkan pada tahun 1318 M Ra Semi melakukan pemberontakan terhadap Majapahit. Berita ini cukup berbeda dengan naskah Kidung Sorandaka yang menyebutkan Ra Semi tewas membela Nambi tahun 1316 M.

Pararaton mengisahkan secara singkat pemberontakan Ra Semi terhadap pemerintahan Jayanagara. Pemberontakannya itu ia lakukan di daerah Lasem. Akhirnya pemberontakan kecil ini dapat ditumpas oleh pihak Majapahit di mana Ra Semi akhirnya tewas dibunuh di bawah pohon kapuk. Pernyataan menurut kitab Pararaton tersebut mirip dengan apa yang ada di sekitar Ngeblek (Ngargomulyo) dimana terdapat makam tokoh besar (tokoh agung) di bawah pohon randu/kapuk. Namun keadaan sekarang, karena proses islamisasi maka masyarakat sekitar menamai makam itu dengan nama Islam. Sungguh hal yang disayangkan.

Tokoh

  1. Mpu Rangga Widyabadra
  2. Ra Semi
  3. Mpu Metthabadra

Peninggalan

Belum ditemukan secara pasti terkait bukti fisik Kekuwuan Lasem, namun yang bisa kita lihat sampai saat ini adalah

  1. Pertapaan Argasoka di Gunung Tapaan, sebelah barat Vihara Ratanavana Arama Sendangcoyo. Di sana terdapat Punden Tapaan yang berdiri tugu nisan bertuliskan nama-nama tokoh yang diperabukan dan ditempatkan di sana mulai dari Reliqnya Dhatu Kie Seng Dhang (Sindang, Dhatu Tanjungputri), Abu jenazah Dhatu Hang Sam Badra (Bhadrawarman, raja pertama Pucangsula), Abu jenazah Dattsu Sie Ba Ha (Dewi Sibah, putri Hang Sam Badra), Abu jenazah Mpu Rangga Widyabadra (Ki Welug, pendiri Kutha/Kekuwuan Lasem), dan yang terakhir adalah Tumenggung Wilwatikta Mpu Pangeran Santibadra (Tumenggung Wilwatikta; Penulis Kitab Sabda Badra Santi; Pendeta Buddha-Kanung, ayah biologis Kalijaga).
  2. Perkampungan Karas: Desa Karasgede, Dukuh Tegalamba (utara desa Karasgede), mungkin juga Desa Karaskepoh, Dukuh Karasjajar (Doropayung) daerah satu kawasan ini semua memakai awalan ‘Karas’ seperti yang disebutkan dalam cerita tentang rombongan Ki Wekel yang membuka permukiman di daerah Karasmula.
  3. Perkampungan Karanggan, kini masuk desa Sumbergirang tepatnya di kampung sebelah utara Sungai Kemendung.
  4. Perkampungan Pereng dan Gambiran, konon Gambiran berasal dari kata Gam Swi Lang, guru Mpu Rangga Widyabadra. Kini merupakan kawasan pecinan di Soditan.

Kepustakaan

Mbah Guru. 1996. Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Desa Dorokandang, Lasem

Mencoba menulis ulang artikel yang saya unggah di wikipedia, dulur. Selamat membaca.

Dorokandang adalah desa di kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Indonesia.

Asal-usul Nama

Pada saat Raden Panji Margono mengasingkan dari Kadipaten Lasem dan menjalani hidup seperti rakyat kecil, dia membuka lahan untuk perkampungan di sekitar sungai kecil, sebelah barat Sungai Babagan (Sungai Lasem). Di tanah bekas rawarawa yang penuh semak belukar itu, terdapat sekali pohon Tal (aren/siwalan) serta pohon Doro (widoro/bidara). Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang membuat rumah dan tinggal di perkampungan tersebut bersama Raden Panji Margono yang sebenarnya adalah anak seorang AdipatiLasem, Raden Arya Tejakusuma V (Raden Panji Sasongko), yang tak mau menduduki jabatan sebagai Adipati Lasem jika ayahnya sudah turun jabatan. Pada suatu ketika, Raden Panji Margono dan warga membersihkan semak belukar yang tumbuh di sekitar perkampungan.Ki Mursodo, seorang yang menjadi abdi setia sang putra adipati tersebut bertugas merapikan ranting pohon Doro yang besar itu bersama beberapa warga kampung. Setelah pohon Doro yang besar itu terlihat bersih dan asri, di sekitar pohon Doro itu dibangun sebuah pagardari bambu yang mengelilingi pohon tersebut sehingga nampak seperti kandang. Setelah Panji Margono bersama para warga lain selesai membersihkan tempat itu mereka semua merasa sangat lelah karena seharian membersihkan semak-semak belukar. Setelah mereka semua lelah bekerja bakti, mereka pun beristirahat di bawah pohon Doro tersebut. Di sana juga terlihat Raden Panji Margono yang juga terlihat sangat kelelahan, duduk bersantai bersama warga. Di sela-sela istirahat para warga, Raden Panji Margono berkata “Sedulur-sedulurku sedoyo, warga-wargaku, elingo. Yen mbesok ono reja-rejane njaman, kanggo pengeling-eling, panggonan iki bakal takjenakno DOROKANDANG!” (Para saudara-saudaraku, warga-wargaku, ingat-ingatlah. Jika suatu saat jaman sudah berganti menjadi lebih baik, sebagai pengingat kalian semua, tempat ini dan sekitarnya saya namakan DOROKANDANG”. Sejak saat itu dan sampai sekarang tempat itu bernama desa Dorokandang (terdiri dari kata DORO dan KANDANG).

Pada kitab Sejarah (Carita) Lasem, disebutkan sebuah tempat yang didiami Raden Panji Margono yang penuh dengan tanaman Tal (siwalan) hingga Raden Panji Margono pun dijuluki sebagai Panji Lasem Talbaya. Warga di sekitar sana banyak yang bekerja sebagai penyadap pohon Tal untuk diambil air niranya, buahnya dijual atau dikonsumsi warga, serta daunnya dipakai untuk bahan menulis (ron-tal/daun Tal, atau lebih sering disebut Lontar), dan juga sekaligus untuk mengintai pasukan kompeni Belanda dari atas pohon Tal yang tumbuh tinggi, sebagai mata-mata untuk mengetahui bahaya yang ada. Maka, banyak yang menjuluki daerah tersebut dengan nama TALBAYA (terdiri dari kata TAL dan be-BAYA/bahaya).

Jadi jika dapat disimpulkan, nama desa ini ada 2 yaitu DOROKANDANG dan TALBAYA. Namun, orang-orang lebih sering menyebutnya DESA DOROKANDANG.

Geografi

Desa Dorokandang termasuk desa kota di Kecamatan Lasem, berjarak lebih kurang 2,5 km ke arah barat dari ibukota kecamatan Lasem dengan batas-batas wilayah sebagai berikut.

Utara Jalan Raya Lasem dan desa Gedongmulyo
Selatan Desa Kasreman (Kecamatan Rembang)
Barat Desa Gedongmulyo dan desa Punjulharjo (Kecamatan Rembang)
Timur Desa Babagan

Desa Dorokandang mempunyai luas wilayah seluas 203,5 ha dan terletak di dataran rendah. Rata-rata ketinggian daerah adalah 4 meter di atas permukaan laut. Desa yang terletak di bagian terbarat kota Lasem ini terbagi dalam beberapa dusun/dukuh, yaitu:

Pertanian

Embung Sawah Segoro, di Persawahan Sawah Segoro Narukan, Dorokandang.

Sebagai desa yang sebagian besar luas areanya adalah lahan pertanian/tegalan/pertambakan, ini berpengaruh langsung pada pola pikir masyarakat maupun keadaan sosial-antropologi masyarakatnya. Lahan pertanian di Dorokandang memang terkenal subur dan hasil pertaniaannya rata-rata diperdagangkan di Pasar Lasem yang terletak di utara desa ini, berbatasan dengan desa Gedongmulyo.

Jalan Narukan menuju area Sawah Segoro di Narukan, Dorokandang. Tampak semak dan hutan jati di sekeliling jalan.

Kawasan pertambakan di Dorokandang biasanya digunakan untuk budidaya bandeng, udang, dan sebagai lahan tambak garam. Kawasan pertambakan dan pertanian di Dorokandang terekam dalam karya sastra Carita Lasem (kitab pembuka Sabda Badra Santi 1400 Syaka) dan merupakan salah satu kawasan pertanian yang bersejarah. Di desa ini terdapat beberapa embung/waduk kecil yang digunakan sebagai penampung air hujan untuk sarana irigasi di sawah dan ladang, sebab pertanian di desa Dorokandang adalah lahantadah hujan yang mengandalkan air hujan sebagai sumber irigasi lahan pertanian. Dengan adanya embung-embung ini, irigasi ke lahan-lahan pertanian dapat berjalan dengan lancar. Salah satu embung yang terbesar adalah embung di kawasan persawahan Sawah Segoro,Narukan. Embung ini relatif baru. Namun karena kebutuhan, pemerintah desa Dorokandang membuat embung lagi di kawasan persawahan SambongDondong dan pembuatan dilaksanakan pada tahun 2014 dan selesai pada tahun itu juga.

Selain itu, di desa Dorokandang juga terdapat beberapa hutan jati yang tidak begitu luas milik warga pribadi. Kurangnya area untuk kawasan hutan desa dan alih fungsi kawasan semak/hutan di kawasan Sambong-Dondong sebagai lahan pertanian menyebabkan masalah tersendiri terkait program penghijauan lingkungan yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan.

Tokoh

Rupang dari Raden Panji Margono.

  1. Di desa ini terdapat makam salah satu Pahlawan Lasem yaitu Raden Panji Margono (RPM Tedjokusumoputro) putra Adipati Lasem Tejokusumo V periode 1714-1727. Dia salah satu Tiga Bersaudara bersama Mayor Oey Ing Kiat (Adipati Tumenggung Widyaningrat, Adipati Lasem 1727-1750) dan Tan Kee Wie. Mereka adalah 3 (tiga) pemimpin pemberontakan Tionghoa – Mataram terhadap VOC di Lasem. Bersama Tan Kee Wie, seorang pendekar kungfu dan pengusaha Lasem, mereka bersumpah untuk mengikatkan diri sebagai tiga saudara angkat. Makam Raden Panji Margono terletak di dukuh Sambong, desa Dorokandang. Untuk mengenang kepahlawanan Tiga Bersaudara itu, masyarakat Lasem terutama warga Tionghoa, membuat monumen berupa klenteng Gie Yong Bio di desa Babagan. Mereka dianggap Dewa Penyelamat/Kongco bagi warga Tionghoa dan dibuat Rupangnya dipuja oleh masyarakat Tionghoa. Rupang Kongco Raden Panji Margono (RPM Tedjokusumoputro) berada di altar khusus. Rupang Oey Ing Kiat dan Tan Kee Wie, menyatu berdampingan di altar utama. R.Panji Margono juga dikenal dengan nama samarannya yaitu Tan Pan Ciang saat Perang Kuning. (Abad ke-18)
  2. Panglima Tionghoa Singseh (Tan Sin Ko) yang merupakan salah satu pahlawan nasional (sedang diajukan) yang bersama kaum pribumi berjuang melawan VOC. Dia adalah sahabat dekat dari Raden Said (Alap-alap Sambernyawa/Mangkunegara). Makamnya terletak di Bong Singseh, tepatnya di areal persawahan Dukuh Narukan. (Abad ke-18)
  3. Ki Mursada, dia adalah abdi setia dari RP.Margono, bersama dengan Ki Galiyo. Dia dimakamkan di dekat makam RP.Margono, sementara Ki Galiyo (Mbah Sedandang) dimakamkan di utara Jalan Raya RembangLasem dengan nama Makam Sedandang. (Abad ke-18)
  4. Raden Panji Witono, adalah putra bungsu dari Raden Panji Margono. Dia sejak kecil dikucilkan oleh masyarakat karena dianggap anak brandal (istilah dari VOC bagi pemberontak yang menentang VOC). Dia membunuh mandor kerja rodi di jalan Rembang-Lasem dan melarikan diri keKaliwungu, Kendal sampai wafat dan dimakamkan di sana. (Abad ke-18)
  5. Raden Panji Kamzah, adalah keturunan Raden Panji Margono. Dia yang menulis naskah Carita Lasem sebagai kisah pembuka pada Kitab Sabda Badra Santi karangan Mpu Santibadra Tumenggung Wilwatikta, yang masih terhitung sebagai sesepuhnya. Dia dimakamkan di pemakaman dukuh Sambong. (Abad ke-19)
  6. Djaswadi, dia adalah seorang kamituwo (Kadus I) yang dahulu rumahnya berada di belakang kantor Dinas P & K Lasem, dukuh Persilan. Almarhum Jaswadi merupakan sosok yang menjunjung tinggi adat Jawa. (Abad ke-21)
  7. Sukarman, dia adalah seorang mantan kepala desa Dorokandang. Pada masa pemerintahannya, kantor kepala desa Dorokandang dipindahkan dari dukuh Persilan (di rumahnya) menuju ke dukuh Sambong sampai sekarang ini. Masa tua dia sangatlah tidak seperti pemimpin besar, dia wafat dalam keadaan ekonomi yang serba pas-pasan (wong cilik). (Abad ke-21)
  8. Hadi Pawiro, atau Mbah Abas, dia adalah seorang veteran pada zaman penjajahan Jepang. Almarhum Hadi tinggal di dukuh Persilan dan menghabiskan masa tua sampai wafatnya sebagai seorang peladang dan pembuat sapu kelud. (Abad ke-21)
  9. Mbah Karban, dia adalah seorang tokoh Islam Jawa yang menjunjung tinggi ilmu luhur Jawa. Almarhum dahulu tinggal di dukuh Sambong dan masih saudara tunggal ibu lain ayah dengan Mbah Hadi Abas Pawiro. (Abad ke-21)
  10. Sentot Ali Muksin, adalah seorang seniman karawitan, ketoprak dan seni beladiri. Dia berasal dari Jepara dan menikah dengan warga Dorokandang. Tempat tinggalnya di dukuh Persilan. Masa tua dia banyak diisi dengan kegiatan memancing, serta merawat burung kicauan. (Abad ke-21)
  11. Mbah Kardi, adalah seorang seniman Jaran Kepang (Kuda Lumping) dan Barongan sekaligus kepala paguyupan seni kuda lumping Songgo Buwono di dukuh Narukan. Walaupun dia berasal dari Desa Jeruk Pancur, namun dia berjasa melestarikan seni Kuda Lumping dan mengharumkan nama Desa Dorokandang.
  12. Ghofar Ismail, adalah seorang politikus (DPRD Rembang) dari Partai Keadilan Sejahtera yang telah membangun yayasan pendidikan Mutiara Hati, yang membangun Playgroup dan SDI Mutiara Hati.
  13. Mbah Wagiran, seorang tabib dan ahli ilmu kejawen yang banyak membantu masyarakat sekitar. Dia tinggal di dukuh Narukan
  14. Ki Rustamaji, seorang dalang wayang kulit yang mempunyai sanggar di rumahnya sendiri, tepatnya di dukuh Karanganyar, Dorokandang.
  15. Hilmi, seorang tokoh muda yang membangun Padepokan Seni Beladiri Pencak Silat Jibril (Jiwa Bersih Ridlo Illahi) sebagai satu-satunya pencak silat yang asli berasal dariLasem.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Mayoritas penduduk desa Dorokandang adalah suku Jawa, ada pula suku Sunda (perantauan; minoritas terbesar, terpusat di Dukuh Narukan). Sebagian besar penduduknya menganut agama Islam, selain itu ada pula yang menganut agama Kristen, Katholik, dan penganut kepercayaan (Kejawen). Di desa Dorokandang berdiri 1 masjid (Masjid Al-Barokah) dan 1 gereja kristen (Gereja Kristen Jawa/ GKJ Lasem). Penduduknya sebagian besar bermatapercaharian sebagai petani dan buruh tani, buruh jasa, pedagang, dan pegawai negeri.

SDN Dorokandang 1 Lasem

Di bidang pendidikan, di desa Dorokandang juga dibangun beberapa tempat pendidikan, antar lain:

  • SDN Dorokandang 1
  • SDN Dorokandang 2
  • SLB Dorokandang Lasem
  • TK Harapan
  • TK Islam Bakti
  • TPQ & Madin Roudhotot Tholibin
  • Playgroup Mutiara Hati

Punden Leluhur

Beberapa punden dan bregat yang diluhurkan adalah:

  • Punden Mbah Buyut (Panji Margono), terletak di dukuh Sambong, di bawah pohon trenggulun.
  • Punden Mbah Teratai, terletak di dukuh Trobayan, di jalan tembus dukuh Dondong dan Trobayan.
  • Punden Mbah Kemuning, terletak di dukuh Persilan, di utara Lapangan Dorokandang, areal pohon beringin besar.
  • Punden Sumurombe, terletak di dukuh Narukan, areal persawahan dekat perbatasan desa Babagan di bawah pohon asam jawa.

Peninggalan Bersejarah

Bekas Stasiun Lasem, gambar tampak dalam

Home Industri

  1. Batik Lasem PAK USMAN, sebuah industri batik Lasem milik bapak Usman yang terdapat di dukuh Karanganyar. Industri ini sering mengikuti pameran di berbagai tempat.
  2. Batik Lasem BAROKAH, sebuah industri batik Lasem kecil-kecilan milik bapak Afif dan ibu Mawar yang terdapat di dukuh Persilan.
  3. Pabrik Krupuk, milik bapak Suhama’ terdapat di dukuh Narukan.
  4. Industri Jahe Wangi Bubuk, milik ibu Lasni terdapat di dukuh Sambong.
  5. Pabrik Terbelo (peti Tiongkok, untuk tempat jenazah warga Tionghoa), terdapat di dukuh Sambong.
  6. Industri Ceriping (Keripik Singkong), milik bapak Sangim, terdapat di dukuh Sambong.
  7. Industri Makanan Wingko, makanan tradisional dari olahan ketan dan kelapa, industri ini milik bapak Lasimo dukuh Karanganyar.
  8. Industri olahan laut (Cumi-cumi/Udang goreng tepung), terdapat di dukuh Karanganyar.

Referensi

  • Kitab Carita (Sejarah) Lasem, sebuah Kitab Pembuka pada Kitab Badrasanti karangan mPu Tumenggung Wilwatikta Dhang Puhawang Santibadra.
  • Unjiya, M.Akrom, Lasem Negeri Dampoawang Sejarah yang Terlupakan, Yogyakarta: Eja Publisher, 2008.
  • R.M. Panji Kamzah, Carita Lasem, tanpa kota: tanpa penerbit, 1858.
  • LASKAR CHINA DAN PRIBUMI MELAWAN VOC 1740 -1743 [1]
  • Satu Satunya Di Dunia Kongco Pribumi Klenteng Gie Yong Bio Lasem [2]
  • Data dari Balai Desa Dorokandang
  • Kisah turun-temurun dari sesepuh desa
Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Potensi Pengelolaan Situs Bersejarah di Desa Dorokadang, Lasem

Desa Dorokandang merupakan sebuah desa yang terletak di ujung barat daerah Lasem. Desa yang sebagian tanah nonpermukimannya berupa sawah, ladang, dan pertambakan ini merupakan salah satu desa yang menyimpan banyak sekali goresan sejarah panjang kota Lasem. Tak heran, jika di desa yang agak terpinggirkan ini, banyak terdapat situs-situs bersejarah yang justru kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Padahal, semua ini memiliki potensi yang luar biasa jika dikelola dengan tepat.

Nah, setelah ngobrol ngalor-ngidul, saatnyaa kita babar opo ae leh situs-situse? Cekidot…

1. Situs Mbah Buyut / Sambong

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Terletak di dukuh Sambong. Di situs ini, terdapat makam Raden Panji Margono, seorang pahlawan dalam Perang Lasem, sebuah perang gabungan Jawa-Tionghoa melawan Kompeni VOC. Beliau adalah putra Adipati Lasem Tejakusuma V yang tak mau hidup sebagai adipati untuk meneruskan tahta ayahnya, namun berniat membuka tanah semak berawa untuk dijadikan permukiman. Singkat kata, beliaulah yang membuka tanah menjadi cikal bakal desa Dorokandang ini. Jasa beliau untuk kota Lasem sangatlah besar, hingga orang-orang Tionghoa membuatkan patung untuknya dan didewakan di Klenteng Gie Yong Bio, Babagan, sebelah timur Desa Dorokandang, bersama dengan 2 saudara seperjuangannya, Tan Kee Wie dan Oei Ing Kiat (Tumenggung Widyaningrat, Adipati Lasem).

Selain makam Raden Panji Margono, terdapat makam Ki Mursada. Beliau adalah abdi setia Raden Panji Margono yang menjaga beliau sampai beliau tutup usia. Makam Ki Mursada terletak di sebelah makam Raden Panji Margono. Terletak di sebidang tanah yang cukup luas di bawah pohon-pohon besar yang rindang.

2. Situs Bong Singseh

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Terletak di area persawahan, merupakan makam seorang panglima perang saat peristiwa Geger Pecinan dengan nama asli Panglima Tan Sin Ko. Beliau dimakamkan menghadap ke Gunung Bugel, sebuah pamali/pantangan bagi kaum Tionghoa jika dimakamkan menghadap ke gunung. Konon, beliau menghadap ke Gunung Bugel adalah sebagai penghormatan kepada Tumenggung Widyaningrat (Adipati Lasem Oei Ing Kiat). Makam ini berupa makam Tionghoa (Bong) yang dicat putih dan sangat mencolok dari kejauhan.

Jalan akses dari jalan besar persawahan menuju ke area inti makam sangatlah kurang layak dan hanya berupa galengan (pematang sawah) yang lumayan sempit dan berlumpur saat musim hujan. Perlu adanya penataan dan perawatan lebih lanjut agar lebih menarik wisatawan untuk belajar sejarah dan kebesaran leluhur-leluhurnya.

3. Situs Stasiun Lasem

Dokumen Wikipedia

Dokumen Wikipedia

Terletak di antara Dukuh Persilan dan Dukuh Trobayan. Berupa bangunan bekas stasiun yang berarsitektur perpaduan gaya Belanda dan Tiongkok. Stasiun ini dinonaktifkan dan kini beralih fungsi menjadi area parkir truk.

Dokumen Wikipedia

Dokumen Wikipedia

Perlu adanya perawatan sebagai benda cagar budaya dan jangan terjadi lagi perusakan benda-benda cagar budaya seperti pencurian benda-benda eks-Stasiun Lasem ini. Lebih tepat lagi jika dilakukan pengaktifan kembali jalur kereta api Semarang-Lasem-Jatirogo.

4. Situs Sumur Ombe

Merupakan sumur tua yang masih berfungsi dan airnya untuk keperluan konsumsi. Terletak di bawah pohon asam jawa di kawasan pinggir persawahan dukuh Narukan, berbatasan dengan Desa Babagan. Sumur ini berbentuk persegi, tidak seperti sumur lainnya yang berbentuk lingkaran. Diperkirakan sumur ini sudah ada sejak masa Kerajaan Lasem dan dipakai untuk sumber air minum bagi para petani maupun pengelana yang sedang menempuh perjalanan jauh. Dari segi fisik, sumur ini dibangun dari batu bata yang berukuran tebal, dan tren penggunaan batu bata seperti itu mencapai puncaknya pada masa Kerajaan Majapahit, dan pada masa itu Kerajaan Lasem merupakan salah satu kerajaan otonom dari Wilwatikta/Majapahit.

Penjagaan sumber air ini dan pelarangan mandi di area ini dengan kisah-kisah mistis menyebabkan sumber air Sumur Ombe ini masih terjaga kebersihannya. Diharapkan pemantauan terhadap kebersihan air dan keaslian bangunan menjadi daya tarik tersendiri bagi yang ingin mengunjungi Sumur Tua bertuah ini.

5. Masih banyak lagi, tunggu seri berikutnya. Salam Begja Rahayu 🙂

Dipublikasi di Heritage, Potensi Wisata, Situs Pusaka Lasem, Uncategorized | Tag , , , , , , | 2 Komentar

Neanderthal Juga “Manusia”….

MAJALAH ARKEOLOGI INDONESIA

Oleh: Luki Aulia

Kompas, Sabtu, 2 Oktober 2010 – Dasar Neanderthal!” Pernah mendengar ejekan seperti itu? Biasanya orang akan tersinggung jika dipanggil Neanderthal gara-gara stigma lugu, bodoh, dan primitif yang menempel pada manusia purba Neanderthal. Padahal, Neanderthal terbukti cerdas dan kreatif menciptakan barang dan teknologi, sama seperti kita.

Hanya karena Neanderthal (Homo neanderthalensis) tinggal di dalam gua dan hidup pada zaman yang primitif tidak lantas Neanderthal juga lugu, bodoh, dan gagap teknologi (gaptek). Dibandingkan dengan zaman sekarang, jelas mereka tampak primitif. Tetapi, pada zamannya, Neanderthal cerdas, bahkan lebih maju dibandingkan manusia modern awal, nenek moyang kita (Homo sapiens).

Lihat pos aslinya 512 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Dunia Mengakui, tetapi Pemerintah Berdiam Diri

MAJALAH ARKEOLOGI INDONESIA

Hingga sekarang, penemuan manusia Liang Bua atau Homo floresiensis di Flores, Nusa Tenggara Timur, 11 tahun lalu, menjadi sorotan para peneliti dunia. Karena temuan ini, empat ilmuwan Indonesia dari Pusat Arkeologi Nasional, yaitu Rokus Awe Due, E Wahyu Saptomo, Jatmiko, dan Thomas Sutikna, masuk dalam jajaran ilmuwan dengan pemikiran ilmiah paling berpengaruh sedunia tahun 2014 menurut versi Thomson Reuters, di London, Inggris. Namun, diskursus dan perhatian dalam negeri terhadap temuan spektakuler ini justru tidak menggema.

Lihat pos aslinya 409 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Punden Tapaan, Berdiri Kokoh di Tengah Ilalang

Siang nan terik, dengan hiasan awan gelap di langit selatan. Sedikit menjelajahi jalan terjal penuh semak belukar, berjuang hanya untuk berkunjung ke tempat leluhur kami istirahat dengan tenang, di puncak bukit yang menghadap ke arah kota Lasem yang nampak seperti denah atau maket rumit dari tanah bersejarah ini.

Kami pun sampai di punden. Hamparan pohon Juwet yang beberapa saat lalu penuh dengan gerombolan buah hitam ini, kini tinggal beberapa saja yang masih bergelantungan di dahan-dahan, dengan pemandangan beratus-ratus buah juwet yang membusuk dan mengering di atas tanah maupun bebatuan.

Juwet busuk yang mengering di atas batu

Di sekitar lahan, nampak hamparan ilalang dan canthel yang melambai diterpa angin siang itu. Rumput yang kian meninggi ini, menyapu lembut kaki-kaki kami yang berjalan perlahan menuju punden itu.

Sungguh disayangkan, pintu cungkup punden terkunci dan tak ada Mbah Karsid (juru kunci punden) di sana. Kami pun hanya bersantai sembari menikmati pemandangan sekitar di latar cungkup itu.

Cungkup Punden Tapaan (dari jauh)

Cungkup Punden Tapaan (dari samping)

Cungkup Punden Tapaan (dari samping)

Cungkup Punden Tapaan (dari depan)

Dalam hening nan tenang ini, Punden Tapaan masih berdiri kokoh menaungi kubur abu jenazah (awu layon) para Mpu petinggi Lasem di masa silam. Tetaplah berdiri, kami senantiasa setia senyempatkan waktu untuk menyapamu.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar