Mitos Prabu Badhog Basu, Raja Raksasa dari Kerajaan Gua Miring

Lakon Prabu Badhog Basu menceritakan tentang seorang raja raksasa dari Kerajaan Gua Miring  bernama Prabu Badhog Basu yang ingin melamar seorang putri dari Kerajaan Medang Kamolan yang bernama Dewi Sri. Perasaannya yang tak terbendung kemudian mendorongnya untuk mengadakan pasewakan agung yang dihadiri oleh Patih, Petinggi Kerajaan, dan abdi setianya yaitu Togog dan Mbilung Sarawita. Usai Prabu Badhog Basu nguda rasa, diutuslah patihnya yang bernama Patih Kalasrenggala. Sang Patih kemudian berangkat menuju Kerajaan Medang Kamolan dan melaporkan diri sebagai utusan dari Kerajaan Gua Miring untuk melaporkan keinginan Prabu Badhog Basu yang hendak melamar Dewi Sri, putri dari Prabu Sri Mahapunggung.

Suasana menjadi tegang karena lamaran datang dari negeri para raksasa yang terkenal tak tahu sopan santun dan akan berbuat apa saja untuk mewujudkan keinginannya. Prabu Maharaja Sri Mahapunggung tak mau putrinya menjadi istri dari Prabu Badhog Basu yang garang dan angkara murka. Sebagai raja yang cerdas, kemudian Sri Mahapunggung mengatakan bahwa ia setuju putrinya dipersunting oleh Prabu badhog Basu, namun harus menunggu sampai hari Jumat Kliwat bulan Jumadil Lawas. Patih Kalasrenggala pun mohon pamit untuk menyampaikan pesan Sri Mahapunggung kepada rajanya, Prabu Badhog Basu. Ia pun pergi meninggalkan istana Medang Kamolan.

Setelah Sang Patih Kalasrenggala kembali dari Medang Kamolan, Patih Kalasrenggala pun memberitahu kepada Prabu Badhog Basu bahwa Maharaja Sri Mahapunggung menyetujui putrinya dipersunting oleh Prabu Badhog Basu, tetapi Sri Mahapunggung harus menunggu sampai hari Jumat Kliwat bulan Jumadil Lawas. Sebagai raja raksasa yang tidak sebodoh raksasa pada umumnya, berita ini membuat Prabu Badhog Basu marah. Ia paham bahasa simbolis atau pasemon yang diberikan Maharaja Sri Mahapunggung merupakan penolakan halus namun sangat menyakitkan, karena menurutnya tidak ada yang namanya hari Jumat Kliwat bulan Jumadil Lawas, yang ada adalah hari Jumat Kliwon dan bulan Jumadil Awal. Sang Prabu pun menyimpulkan bahwa lamarannya tidak diterima oleh Sri Mahapunggung. Ia pun murka dan menyiapkan bala tentara raksasa unggulan untuk menyerang Kerajaan Medang Kamulan.

Suatu ketika, pada saat pasukan raksasa dari Kerajaan Gua Miring berangkat menyerang Kerajaan Medang Kamolan, tiba-tiba dihadang oleh ksatria muda dari Medang Kamolan. Terjadi suatu pertarungan antara ksatria tersebut dengan pasukan raksasa, namun akhirnya pasukan tersebut kocar-kacir dan Prabu Badhog Basu pun turun tangan. Lalu ksatria muda itu dihajar oleh Prabu Badhog Basu dan diterkam sambil terus menghajarnya.

Di lain tempat, Raden Sadana sedang bercakap-cakap dengan Semar. Semar kemudian menasehati Raden Sadana bahwa Raden Sadana sanggup memberantas masalah-masalah yang terjadi di Medang Kamolan akibat amukan para raksasa dari Kerajaan Gua Miring. Akhirnya, Raden Sadana berangkat menghadang pasukan Gua Miring. Di tengah perjalanan ia bertemu Prabu Badhog Basu. Sang Prabu pun bertanya, siapa pria bagus yang tiba-tiba datang dan menghadang pasukan Prabu Badhog Basu . Raden Sadana menjawab, bahwa ia adalah Sadana, putra mahkota Kerajaan Medang Kamolan.. Prabu Badhog Basu menjawab lagi bahwa memang kebetulan sekali, Sang Prabu ingin memboyong Dewi Sri yang tak lain adalah kakak dari Raden Sadana, dan akan dijadikannya permaisuri di Kerajaan Gua Miring miliknya. Tetapi Raden Sadana tidak mengizinkan Sang Prabu untuk memboyong kakak perempuannya. Mereka pun akhirnya bertarung. Raden Sadana pun kalah dan akhirya menemuai Semar. Ia mengadu kepada Semar bahwa Prabu Badhog Basu ini tidak dapat dikalahkan dan sakti. Semar pun member tahu, bahwa sesungguhnya Prabu Badhog Basu yang sakti mandraguna itu memiliki pengapesan, yaitu dipanah menggunakan anak panah yang terbuat dari Pring Apus dan dibagian pucuk/mata panahnya diolesi Kunir Apu. Sadana pun menuruti apa yang diarahkan oleh Semar dan membuat panah tersebut. Kemudian ia pun memanah Prabu Badhog Basu dari kejauhan. Terkena panah Raden Sadana, Sang Prabu pun akhirnya meronta dan akhirnya tewas. Ia tewas karena terpanah lehernya sehingga kepala dan tubuhnya pisah.

Setelah kejadian itu, Semar pun menemui Raden Sadana. Sadana pun mengucapkan terima kasih dan memeluk tubuh Semar. Lalu Semar menasehati Raden Sadana, bahwa semenjak peristiwa kematian Prabu Badhog Basu ini, kepala Badhog Basu putus dan naik ke langit sebelah barat daya dan menjadi halilintar. Ini menjadi suatu tanda kepada para petani bahwa jika ada kilat atau halilintar yang menyambar di langit, maka itu tandanya petani harus segera istirahat dan meninggalkan sejenak pekerjaannya. Sementara badan Badhog Basu/gembungnya jatuh di laut utara sebelah timur, menjadi ombak songo. Ini menjadi pertanda bagi para nelayan, bahwa jika ada ombak bergulung-gulung dan tinggi, para nelayan agar segera merapatkan perahunya dan beristirahat sejenak sampai keadaan tenang kembali.

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di cerita, mitos dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s