Kerajaan Pucangsula, sebuah peradaban Lasem yang hilang

Mencoba menulis ulang artikel yang saya unggah di wikipedia, dulur. Selamat membaca.

Kerajaaan Pucangsula adalah kerajaan kuno yang terletak di Nusa Kendeng Argapura (Pulau kuno yang lepas dari Nusa Yawapegwan), sekitar tepi barat Pegunungan Lasem Argapura.

Raja-raja

  1. Dhatu Hang Sam Badra yang terkenal sebagai pendeta Kanung yang mengajarkan kepercayaan suci Hwuning terutama tentang Endriya pra Astha kepada murid-muridnya di Pertapaan Argasoka, Gunung Tapaan. Dia memiliki 2 putri yang cantik dan tangguh, yaitu Dewi Sibah (Sie Ba Ha) dan Dewi Simah (Ratu Shima, raja Kalingga.
  2. Dattsu Sie Ba Ha (Dewi Sibah) dia adalah armada laut (laksamana) wanita pada masa pemerintahan Hang Sam Badra. Dia terkenal kejam dan bengis kepada perompak di Lautan Pucangsula, terutama perompak laki-laki yang tampan. Dia akhirnya menjadi istri dari Rsi Agastya Kumbayani (Haricandana) dan memiliki seorang putra bernama Arya Asvendra. Pada masa pemerrinahan dia, Pucangsula mencapai masa kejayaan. Endriya pra Astha diperkukuh di dalam undang-undang, pembangunan tempat suci, dan pertambangan belerang di Baturetna terjadi di zaman Dewi Sibah.
  3. Arya Asvendra, dia adalah putra Rsi Agastya Kumbayani dan Dewi Sibah. Pada masa pemerintahan dia, dibangun pasraman/tempat suci di Bukit Gebang (Butun) dan mensikretiskan ajaran Hwuning dari kakeknya (Sam Badra) dan ajaran Siwa dari ayahnya (Rsi Agastya). Ini dibuktikan dengan adanya penemuan patung Lembu Nandi dan arca Ganapati (Ganesha) di Bukit Gebang, sebelah tenggara Pertapaan Argasoka. Dia wafat di depan candi Sumbadra (Dieng) saat terjadi Tragedi Belerang antara wong Baturretna dan wong Keling (Kalingga) di Dieng untuk memperebutkan hak pertambangan belerang (untuk diekspor), belapati terhadap kaumnya dan ayahnya. pu chang su lao

Anak Arya Asvendra adalah Arya Untaka yang diselamatkan oleh patihnya Arya Asvendra, kelak anaknya ini dijadikan raja di Hangjuruhan (Kanjuruhan) dekat Kali Brantas sampai Singosari. Pada masa Kanjuruhan, Raja Gajayana membuat tempat suci pemujaan yang sangat bagus guna memuliakan Rsi Agastya. Sang raja juga menyuruh membuat arca sang Rsi Agastya dari batu hitam yang sangat elok, sebagai pengganti arca Rsi Agastya yang dibuat dari kayu cendana oleh nenek Raja Gajayana.

Pemecahan Wilayah

Kerajaan Pucangsula dipecah wilayahnya menjadi 3 pada masa pemerintahan Hang Sam Badra (Bhadrawarman):

  1. Pucangsula, berkuasa di sisi timur, dengan Dewi Sibah sebagai rajanya.
  2. Keling (Kalingga), berkuasa di sisi tengah dan Pulau Muria, dengan Ratu Shima sebagai rajanya.
  3. Baturretna, berkuasa di sisi barat sampai berbatasan dengan Sunda, dengan Rsi Agastya Kumbayani (Haricandana) sebagai rajanya.

Undang-undang Kerajaan

Setelah bertahun-tahun Raja Hang Sam Badra membabar ajaran Endriya Pra Astha dan para pendeta Kanung juga telah mengajarkan ajaran ini kepada masyarakat Pucangsula, akhirnya pada masa pemerintahan Dewi Sie Ba Ha (Sibah), Endriya pra Astha ini ditetapkan sebagai undang-undang kerajaan. Endriya Pra Astha ini berbunyi:

  1. Tunemen nyambut gawe ngudi rejeki kanggo murakabi Brayate, lan ora srei drengki kemeren ning liyan. (bersungguh-sungguh dalam bekerja mencari rejeki untuk kesejahteraan keluarga serta tidak boleh iri dengki terhadap orang lain).
  2. Nyembah mundhi-bekti ning wong tuwane-sakloron; sambat nyebut: Adhuh Sembooooook, Gusti kula! (=Sembok kuwi wong sing bagus atine sa-ndonya), Adhuh Semaaaaaak, Pangeran kula! (=Semak/Bapak kuwi pangengerane wong sagotrah anak-bojone). (Berbakti kepada kedua orang tua).
  3. Ngleluri mundhi Pundhen Nyai-Dhanhyang Kaki-Dhanhyang sing cakalbakal desane. Sarta emoh nganggu Manuk-manuk sing padha manggon ning bregat Pundhen, utawa ning bregat-bregat liyane kana-kana. (Menghormati punden para leluhur yang menjadi cikal bakal desa serta tidak boleh mengganggu burung-burung yang tinggal di pohon besar sekitar punden atau pohon-pohon besar yang dianggap sakral di tempat lain).
  4. Sayuk rukun karo tangga-teparo lan sadulure, bebarengan gotong-royong ing wulan Purnama Badrapada; bresih desa, ratan, sendhang, karas pekarangan; sarta memetri nguri Bregat. (Hidup rukun dengan tetangga kanan kiri dan saudara, bersama-sama gotong-royong pada saat Bulan Purnama Badrapada untuk melakukan upacara bersih desa, membersihkan jalan besar, telaga/sendang, pekarangan, serta merawat pohon-pohon besar agar tetap asri lestari).
  5. Mangastuti rembugan nggathukake pinemu, kanggo pituduh mbangun majune Desane, lan njaga kaamanane. (Mendahulukan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan masalah, sebagai petunjuk untuk membangun kemajuan desa dan menjaga keamanan/ketenteraman desa).
  6. Nguri-uri ngluhurake Budipakarti Seni-Budaya Jawa. (Melestarikan dan meluhurkan budi pekerti seni budaya Jawa).
  7. Mikani ning Bumi dununge kabeh Titah kasinungan Sang Urip kang Maha Esa, mikani ning Langit dununge/ manunggale Urip Agung Sang Nyawa kang Maha Das. Wong mati ragane dadi Mayit lebur ing Bumi, Jiwane dadi Yitma nunggal ning Langit. (Menyembah kepada Yang Maha Esa dan ingat bahwa orang yang mati raganya akan melebur menjadi satu dengan bumi dan jiwanya akan manunggal di langit).
  8. Setya pranatane Negara lan Sabda wasitane Sesepuh Agung Manggala Praja. (Setia terhadap peraturan negara dan sabda para Sesepuh Agung Manggala Praja).

Dugaan Peninggalan

  1. Kompleks Candi Dieng, di dataran tinggi Dieng
  2. Reruntuhan Candi Pucangan di desa Sriombo
  3. Pasraman bukit Gebang (Butun), tempat pengajaran ajaran Siwa, di desa Warugunung
  4. Pasraman bukit Tapaan (Argasoka), tempat pengajaran ajaran Hwuning dan Buddha-Kanung, sebelah barat Vihara Tlueng (Sendangcoyo)
  5. Punden Tapaan, tempat bersemayamnya abu jenazah Hang Sam Badra dan Dewi Sibah, sebelah barat Vihara Tlueng (Sendangcoyo)
  6. Arca Lembu Nandini dan Arca Ganapati (Ganesha) di bukit Gebang
  7. Reruntuhan Candi Gebang di bukit Gebang
  8. Situs Kapal Kuno desa Punjulharjo (abad ke-7 M)
  9. Bekas tempat pabrik kapal di lereng Gunung Bugel, Dhak-Palwa/Palwadhak (desa Pohlandak sekarang)
  10. Desa/Dukuh Gepuro sebagai gerbang/gapura kotaraja (kini masuk desa Selopuro)
  11. Dukuh Pucangan desa Sriombo
  12. Dukuh Sulo desa Sriombo
  13. Dukuh Logading (Selogading) desa Sriombo

Referensi Acuan

  1. Naskah Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung
  2. Cerita-cerita setempat
  3. Arkeologi.web.id: misteri tokoh arya asvendra
Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Heritage, Sejarah Lasem, Situs Pusaka Lasem dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s