Potensi Pengelolaan Situs Bersejarah di Desa Dorokadang, Lasem

Desa Dorokandang merupakan sebuah desa yang terletak di ujung barat daerah Lasem. Desa yang sebagian tanah nonpermukimannya berupa sawah, ladang, dan pertambakan ini merupakan salah satu desa yang menyimpan banyak sekali goresan sejarah panjang kota Lasem. Tak heran, jika di desa yang agak terpinggirkan ini, banyak terdapat situs-situs bersejarah yang justru kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Padahal, semua ini memiliki potensi yang luar biasa jika dikelola dengan tepat.

Nah, setelah ngobrol ngalor-ngidul, saatnyaa kita babar opo ae leh situs-situse? Cekidot…

1. Situs Mbah Buyut / Sambong

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Terletak di dukuh Sambong. Di situs ini, terdapat makam Raden Panji Margono, seorang pahlawan dalam Perang Lasem, sebuah perang gabungan Jawa-Tionghoa melawan Kompeni VOC. Beliau adalah putra Adipati Lasem Tejakusuma V yang tak mau hidup sebagai adipati untuk meneruskan tahta ayahnya, namun berniat membuka tanah semak berawa untuk dijadikan permukiman. Singkat kata, beliaulah yang membuka tanah menjadi cikal bakal desa Dorokandang ini. Jasa beliau untuk kota Lasem sangatlah besar, hingga orang-orang Tionghoa membuatkan patung untuknya dan didewakan di Klenteng Gie Yong Bio, Babagan, sebelah timur Desa Dorokandang, bersama dengan 2 saudara seperjuangannya, Tan Kee Wie dan Oei Ing Kiat (Tumenggung Widyaningrat, Adipati Lasem).

Selain makam Raden Panji Margono, terdapat makam Ki Mursada. Beliau adalah abdi setia Raden Panji Margono yang menjaga beliau sampai beliau tutup usia. Makam Ki Mursada terletak di sebelah makam Raden Panji Margono. Terletak di sebidang tanah yang cukup luas di bawah pohon-pohon besar yang rindang.

2. Situs Bong Singseh

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Terletak di area persawahan, merupakan makam seorang panglima perang saat peristiwa Geger Pecinan dengan nama asli Panglima Tan Sin Ko. Beliau dimakamkan menghadap ke Gunung Bugel, sebuah pamali/pantangan bagi kaum Tionghoa jika dimakamkan menghadap ke gunung. Konon, beliau menghadap ke Gunung Bugel adalah sebagai penghormatan kepada Tumenggung Widyaningrat (Adipati Lasem Oei Ing Kiat). Makam ini berupa makam Tionghoa (Bong) yang dicat putih dan sangat mencolok dari kejauhan.

Jalan akses dari jalan besar persawahan menuju ke area inti makam sangatlah kurang layak dan hanya berupa galengan (pematang sawah) yang lumayan sempit dan berlumpur saat musim hujan. Perlu adanya penataan dan perawatan lebih lanjut agar lebih menarik wisatawan untuk belajar sejarah dan kebesaran leluhur-leluhurnya.

3. Situs Stasiun Lasem

Dokumen Wikipedia

Dokumen Wikipedia

Terletak di antara Dukuh Persilan dan Dukuh Trobayan. Berupa bangunan bekas stasiun yang berarsitektur perpaduan gaya Belanda dan Tiongkok. Stasiun ini dinonaktifkan dan kini beralih fungsi menjadi area parkir truk.

Dokumen Wikipedia

Dokumen Wikipedia

Perlu adanya perawatan sebagai benda cagar budaya dan jangan terjadi lagi perusakan benda-benda cagar budaya seperti pencurian benda-benda eks-Stasiun Lasem ini. Lebih tepat lagi jika dilakukan pengaktifan kembali jalur kereta api Semarang-Lasem-Jatirogo.

4. Situs Sumur Ombe

Merupakan sumur tua yang masih berfungsi dan airnya untuk keperluan konsumsi. Terletak di bawah pohon asam jawa di kawasan pinggir persawahan dukuh Narukan, berbatasan dengan Desa Babagan. Sumur ini berbentuk persegi, tidak seperti sumur lainnya yang berbentuk lingkaran. Diperkirakan sumur ini sudah ada sejak masa Kerajaan Lasem dan dipakai untuk sumber air minum bagi para petani maupun pengelana yang sedang menempuh perjalanan jauh. Dari segi fisik, sumur ini dibangun dari batu bata yang berukuran tebal, dan tren penggunaan batu bata seperti itu mencapai puncaknya pada masa Kerajaan Majapahit, dan pada masa itu Kerajaan Lasem merupakan salah satu kerajaan otonom dari Wilwatikta/Majapahit.

Penjagaan sumber air ini dan pelarangan mandi di area ini dengan kisah-kisah mistis menyebabkan sumber air Sumur Ombe ini masih terjaga kebersihannya. Diharapkan pemantauan terhadap kebersihan air dan keaslian bangunan menjadi daya tarik tersendiri bagi yang ingin mengunjungi Sumur Tua bertuah ini.

5. Masih banyak lagi, tunggu seri berikutnya. Salam Begja Rahayu 🙂

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Heritage, Potensi Wisata, Situs Pusaka Lasem, Uncategorized dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Potensi Pengelolaan Situs Bersejarah di Desa Dorokadang, Lasem

  1. 34jichan berkata:

    Info-nya sangat bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s