Punden Tapaan, Berdiri Kokoh di Tengah Ilalang

Siang nan terik, dengan hiasan awan gelap di langit selatan. Sedikit menjelajahi jalan terjal penuh semak belukar, berjuang hanya untuk berkunjung ke tempat leluhur kami istirahat dengan tenang, di puncak bukit yang menghadap ke arah kota Lasem yang nampak seperti denah atau maket rumit dari tanah bersejarah ini.

Kami pun sampai di punden. Hamparan pohon Juwet yang beberapa saat lalu penuh dengan gerombolan buah hitam ini, kini tinggal beberapa saja yang masih bergelantungan di dahan-dahan, dengan pemandangan beratus-ratus buah juwet yang membusuk dan mengering di atas tanah maupun bebatuan.

Juwet busuk yang mengering di atas batu

Di sekitar lahan, nampak hamparan ilalang dan canthel yang melambai diterpa angin siang itu. Rumput yang kian meninggi ini, menyapu lembut kaki-kaki kami yang berjalan perlahan menuju punden itu.

Sungguh disayangkan, pintu cungkup punden terkunci dan tak ada Mbah Karsid (juru kunci punden) di sana. Kami pun hanya bersantai sembari menikmati pemandangan sekitar di latar cungkup itu.

Cungkup Punden Tapaan (dari jauh)

Cungkup Punden Tapaan (dari samping)

Cungkup Punden Tapaan (dari samping)

Cungkup Punden Tapaan (dari depan)

Dalam hening nan tenang ini, Punden Tapaan masih berdiri kokoh menaungi kubur abu jenazah (awu layon) para Mpu petinggi Lasem di masa silam. Tetaplah berdiri, kami senantiasa setia senyempatkan waktu untuk menyapamu.

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s