Lasem di Potret Hitam Putih

Silvia Galikano

Tidak banyak yang saya tahu tentang Lasem, kecuali masih terjaganya arsitektur rumah-rumah lama di Pecinannya.



Oleh Silvia Galikano

Informasi itu dari ucapan sutradara Nia Di Nata di sebuah infotainment, delapan tahun lalu, tentang film Ca Bau Kan yang banyak mengambil lokasi syuting di Lasem. Bermodal informasi secuil itu, saya tuju Lasem. Sehari sebelumnya, saat masih di Rembang, saya dipesan agar turun bus di Babagan. Itulah Pecinan Lasem.

Minibus dari Rembang meluncur di Jalur Pantura, Jalan Raya Pos (de Groote Postweg) yang dulu dibikin Daendels. Mulus, lancar zonder macet. Jendela bus membingkai pemandangan rumah penduduk berganti-ganti dengan tambak bandeng berikut gubuknya yang berdinding gedhek. Pada musim panas, tambak bandeng ini kering, berubah jadi tambak garam. Di dalam gubuk-gubuk itulah garam disimpan sesudah dipanen.

Lima belas menit perjalanan Rembang-Lasem. Bus menurunkan saya di simpang Pasar Babagan (masyarakat menyebutnya Mbagan), Lasem. Ini dia Lasem yang delapan tahun hanya ada…

Lihat pos aslinya 1.378 kata lagi

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s