Eyang Rangga Widyabadra: Membangun Lasem dengan Karya

image

Mentari pagi mengintip di Pegunungan Lasem

Siapa yang mengenal Eyang Rangga Widyabadra? Mungkin tak banyak orang yang mengenal beliau. Nama beliau kalah tenar dengan tokoh-tokoh Lasem sesudahnya, padahal menurut literatur yang ada, peran beliau terhadap “Lasem” sangatlah penting. Mengapa demikian?

Mpu Rangga Widyabadra, beliau sudah berkarya di bumi barat Peg. Lasem ketika namanya masih sebagai Ki Wêlug. Ya, itulah nama mudanya. Masa mudanya telah sedikit saya singgung dalam tulisan sebelumnya
Ki Wêkêl dan Ki Wêlug: Tani-pokol dan Tani-ngothèk di masa Pra-Lasem

Beberapa tahun sudah, Ki Wêlug tinggal di bumi Sumbêrsili. Kampung ini semakin lama semakin maju dan semakin ramai. Sekitar tahun 870 M, seseorang dari Negeri Siam mendarat di pesisir barat Gunung Argosoka, tepatnya di Sunglon èrèng-èrèngé Pongol pesisir tersebut dan membuat permukiman di sana. Seiring berjalannya waktu, kampung tersebut diberi nama Pèrèng. Beliau yang datang dari Negeri Siam itu adalah seorang Bhikku Buddha bernama Gam Swi Lang. Ia dan masyarakat Kanung yang tinggal di situ kemudian membangun Sanggar dan Pasraman di daerah selatan Pèrèng, menghadap ke barat. Masyarakat menyebut Pasraman itu Gambiran, diambil dari nama Gam Swi Lang berubah pelafalan menjadi Gambiran.
Eyang Gam Swi Lang mengajarkan ajaran Buddha-Kanung. Rombongan Gam Swi Lang dan masyarakat Kanung banyak yang menikah dan hidup rukun berdampingan.

Pada tahun 880 M, tepatnya 10 tahun semenjak Eyang Gam Swi Lang mendarat di Pèrèng, Ki Wêlug menemui Bhikku Gam Swi Lang untuk belajar ilmu Agama Buddha dan ilmu-ilmu lainnya. Setelah mengenyam banyak ilmu dan dianggal lulus, Ki Wêlug diwisuda sebagai Pujangga dan mendapat gelar kapujanggan yaitu Mpu Widyabadra. Setelah pulang ke tempat tinggalnya, ia mengajarkan Ilmu-Karya kepada masyarakatnya. Orang-orang Sumbêrsili diajarinya membuat makanan unik, yaitu:
1. Manisan yang dibuat dari Buah Kêmala yang diberi gula;
2. Olahan lauk-pauk yang dibuat dari ikan rawa yang sudah dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam klêthing (wadah) ditumpuk-tumpuk bersama nasi jagung dan garam, kemudian diperam 5 hari sampai terjadi fermentasi dan baunya busuk. Makanan ini dinamakan Bêkasêm atau Masin.

Masyarakat membuatnya bothok dan dicampur dengan krambil muda yang sudah diparut, dijadikan lauk dimakan bersama nasi jagung dan sayur elung atau sayur asem kangkung. Setelah makan, mereka bersendawa sambil berseru, ” Hwaeeek… Aduh Sémboook sêgêré!!!” Kemudian mereka memakan manisan Kêmala sambil bersantai tanpa pakaian karena keringatnya gêmrobyos, diterpa angin semilir dari Gunung Bugêl, membawa aroma bunga-bunga yang harum menenangkan pikiran.

Orang-orang Tani-ngothèk Sumbêrsili diajak Ki Wêlug untuk membuat batu bata berukuran besar dibuat tembok untuk menanggul sumber mata air yang luber membanjiri desa. Air tersebut dialirkan menuju Sungai Sêmangu dan Kêmandhung lalu merembet ke Sungai Têgalamba dan menuju rawa Narukan.
Selain itu, Ki Wêlug juga mengajarkan masyarakat menjadi Kundhi, membuat gerabah. Daerah tempat tinggal para Kundhi itu diberi nama Kundhèn. Selain itu, masyarakat juga diajarkan menjadi Pandhé, tempat tinggalnya diberi nama Pandhéyan.
Wanita-wanita kampung Kundhèn diajari membuat Ampo (makanan dari tanah liat), yang bahan tanah liatnya didapat di sekitar Palwadhak (lereng utara Gunung Bugêl) yang terdapat lempung kete-kuning yang apabila dibuat Ampo rasanya agak gurih.
Sementara itu, Tani-pokol Têgalamba diajarkan cara menanam Padi yang tanpa membutuhkan banyak air. Bibitnya didapat dari sumbangan orang-orang Siam, padi itu dinamakan Pari Gågå-rancah. Beras yang dihasilkan disebut Krōtōg.

Orang-orang Tani-pokol dan Tani-ngothèk yang dipimpin Mpu Widyabadra tersebut merasa guyub dan senang sekali. Masyarakat lalu mengangkat Ki Wêlug Widyabadra menjadi Rangga, Pemimpin Karya. Beliau lalu pindah dan membuat tempat tinggal baru yang dinamai Kêranggan. Tak menunggu waktu lama, desa tersebut menjadi semakin ramai seperti kota besar. Kemudian daerah itu dinamakan LASÊM.
Ketika daerah itu ditetapkan menjadi KOTA LASEM di musim Bêdhidhing, diadakan upacara agung. Mpu Rangga Widyabadra membuat Candrasêngkala untuk mengingat momen tersebut, yaitu
Akarya kombuling manggala“.
Akarya: 4, kombuling: 0, manggala: 8.
Artinya KOTA LASÊM didirikan oleh Ki Wêlug Rangga Widyabadra pada tahun 804 Çaka (882 M).
Mpu Widyabadra meninggal dunia pada tahun 920 M, dan abu jenazahnya disemayamkan bersama para leluhurnya di Pundhèn Tapaan, Gunung Argasoka (Tapaan).

Eyang Rangga Widyabadra, meninggal dunia dengan meninggalkan sebuah peradaban maju yang berkembang pesat. Berbeda dengan pemikiran masyarakat Lasem sekarang yang enggan berKarya dan menciptakan hasil Karya, justru lebih bangga ketika “mbabu” di luar kota. Beliau adalah sosok yang tulus mengabdi kepada masyarakat. Seorang pemimpin yang mencerdaskan rakyatnya, seorang pemimpin yang mensejahterakan masyarakatnya.
Beliau membangun peradaban maju dengan Karya. Berkarya untuk masyarakatnya, berkarya untuk kotanya, Lasem Tercinta.
Namanya seakan semakin tenggelam, diantara rawa-rawa Sumbersili yang kian mengering, diantara rawa-rawa Narukan yang kian menyusut, diantara Sungai Kêmandhung yang kian menyempit. Mungkin, kini tak banyak lagi yang mengenal namanya, seorang Pemangku Karya, Eyang Rangga Widyabadra.

Disadur dari Kitab Sêjarah Kawitané Wong Jawa lan Wong Kanung karangan Mbah Guru.

Salam Begja Raharja Rahayu. 🙂

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s