Nini Ampu, peran wanita dalam Sistem Keagamaan

Pada suatu malam, purnama penuh, bulan keduabelas, orang-orang Tireman Jawa-asli yang
memeluk “agama” Hwuning, melakukan upacara sembahyang di tripamujan, dipimpin seorang Nini Ampu, menggunakan baju kurung dan jarit tenun hitam, telinganya mengenakan sumping dari dedaunan, menghadap Timur, meluhurkan Sang Purwaning Dumadhi. Dupa pewangi, sesajen, bau bunga menebar ke empat penjuru angin. Makanan tanpa lauk daging, jajanan pasar yang melambangkan Lingga dan Yoni, berupa Dumbêg dan Jadah-gêndhuk. Di belakang Nini Ampu, para gadis suci juga bersikap silasanti-manganjali, mengenakan atasan warna pareanom, tapih tenun wanabadra. Rambutnya diikat menaik, leher jenjang diterpa angin dan suara mantera, tusuk
rambut tertutup rangkaian kembang, mawar dan melati. Para Pendeta lelaki berjubah putih, di belakang mereka ada para pemuda, serta pendeta perempuan berada di kiri Nini Ampu yang menjadi pusat pemimpin upacara. Malam itu, Dewi Sri turun dari surga mertiloka, menurunkan kesuburan, memberkati para pasangan pengantin yang akan memasuki lumbung, dan musim cocok-tanam bersama, tiba. (Milovich, 2011)

Kutipan di atas menjelaskan kepada kita tentang peranan wanita dalam suatu Upacara Keagamaan yang disebutkan bahwa mereka memeluk “agama” Hwuning. Seperti yang tertulis dalam Kitab karangan Mbah Guru, Kepercayaan-suci Hwuning telah ada di Nusa Kêndhêng ketika Eyang Kie Seng Dhang mendirikan Perkampungan Tanjungputri di Timur Laut Gunung Lasem. Bahkan sebelum itu, di kitab itu disebutkan bahwa Nyi Seng Dhang nguculi udhêté ngrogoh cepuk isi lêmah-lêbu saka bumi Sampit, disawuraké ning gisiké bumi Ngarga Kêndhêng, nuli sêmbahyang sujud sumungkêm Prêtiwi lan tumênga Angkasa. Wong-wong wadon liyané padha mèlu sêmbahyang bêbarêngan,…..”

Kita tahu bahwa peranan wanita dalam upacara kepercayaan ini sudah ada ketika Nyi Seng Dhang memimpin upacara keagamaan dengan para pemudi sebagai makmum. Di peradaban-peradaban dunia, sifat matriarkal ini sering berpengaruh pada sistem kepercayaan maupun sistem masyarakat, seiring faham mengenai wanita sebagai penegas hubungan manusia dengan jagad raya. Dalam kepercayaan kuno di berbagai belahan dunia, memang peran wanita dalam agama sangatlah penting, seperti dalam Agama Venus, kepercayaan Yunani maupun Romawi. Bahkan kita tahu tentang Bunda Maria Sang Perawan-suci, maupun wanita-wanita yang dipuji sebagai Dewi, seperti Dewi Parwati, Dewi Kwan Im, Thian Shang Seng Mu, Dewi Athena, maupun Dewi Sri yang melegenda di Nusantara. Kita juga mengetahui tentang Rangda Ing Jirah seorang Bhikku Buddha-Tantrayana pada zaman Airlangga, yang kita kenal dalam kisah Calon Arang. Dewi Kilisuci, Puteri mahkota Prabu Airlangga pun adalah seorang bhikku yang sakti. Selain itu dalam sistem pemerintahan kuno, kita mengenal sosok Princess Cleopatra di Mesir, Nie Rah Kie (Putri Kie Seng Dhang) di Tanjungputri, Dattsu Si Ba Ha (Putri Hang Sam Badra) di Pucangsula, Ratu Shima (juga Putri Hang Sam Badra) di Keling, Bhre Lasem I Dewi Indu Purnamawulan di Lasem, bahkan Tribhuwanatunggadewi serta Ratu Suhita di Majapahit. Dari sekian contoh tersebut, kita semakin mengenal perannya dalam kehidupan, tak hanya 3M (Masak, Macak, Manak), namun juga sebagai Pandhita-Ratu.

Kembali ke bahasan mengenai Nini Ampu. Sampai sekarang pun tak ada keterangan pasti mengenai siapa sebenarnya sosok Nini Ampu ini. Tokoh kah? Gelar kah? Atau apa? Dugaan sementara, nama Nini Ampu adalah sebutan bagi Pandhita-putri pada Kapercayan-suci Jawa-Hwuning, yang berkembang di daerah Nusa Kêndhêng (daerah sekitar Peg.Kapur Utara hingga Peg.Lasem).

image

Dumbeg, jajanan unik yang eksis sampai sekarang

Peninggalannya yang masih dapat kita temui adalah jajanan Dumbêg dan Jadah-gêndhuk yang sering disajikan dalam acara Sedekah Bumi (Bersih Desa/Pesta Panen), maupun Sedekah Laut di kawasan Peg.Kendheng sampai sekitar Peg.Lasem. Namun sekarang ini, pengaruh jajanan ini sudah sampai di daerah selatan pulau Jawa, bahkan mereka mengklaim bahwa jajanan ini adalah jajanan khas mereka, bahkan mereka menyebut Dumbeg dengan istilah Clorot. Mungkin mereka lupa bahwa sejatinya Dumbêg dan Jadah-gendhuk ini telah ada sejak Kepercayaan Jawa-Hwuning tumbuh di daerah Lasem dan sekitarnya.
Dari kutipan dari kitab yang ditulis Mbah Guru, “Awu layone (Abu jenazah Hang Sam Badra, red) dipetak dadi sakluwat karo Reliqé Eyang Dhanhyang Kie Seng Dhang ning satêngahé punggur Pundhèn Tapa’an, ditêngêri Watu-alam tilas pamujané Nini Ampu, watu kuwi nongol sa-ndhuwuré gumuk Pundhèn….

image

Tugu di dalam cungkup Pundhèn Tapaan, dengan foto Alm.Mbah Guru di tembok timur.

Gambar tugu perabuan di dalam cungkup Pundhèn Tapaan, Gunung Tapaan. Di tugu tertulis 1 reliq dan 4 awu-layon tokoh penting Hwuning maupun Kanung Lasem yang melegenda, dengan foto Alm.Mbah Guru dan jam dinding yang menghiasi tembok timur.

Memang, menurut kutipan di atas mengenai Watu-alam tilas pamujane Nini Ampu di Pundhèn Tapaan, faktanya disekitar punden terdapat batu-batu semacam batu andesit baik yang berserakan maupun tertata. Jika ini adalah tilas pamujane Nini Ampu, maka bisa dipastikan bahwa batu-batu dengan permukaan rata dan tersusun geometris ini, tidak tertata secara alami namun sudah ditata sejak zaman dulu.
Kita merunut masa berdasarkan yang tertulis pada kitab karangan Mbah Guru ini.

385M, orang-orang keturunan Kie Seng Dhang mulai mendiami bumi Argosoka di lereng barat Peg.Lasem, dipangarsani oleh pemuda 35 tahun bernama Hang Sam Badra. Berarti Beliau lahir sekitar tahun 350M!
387M, Kapercayan-suci Hwuning dibabar dan diajarkan kepada para Pandhita Kasepuhan Kanung oleh Panembahan Guru Hang Sam Badra di Pasraman punthuk Punggur Gunung Tapaan.
390M, Dhatu Hang Sam Badra membangun pelabuhan dan galangan perahu di lereng Gunung Bugêl.
396M, Dattsu Si Ba Ha (putri Hang Sam Badra) bertemu Rsi Agastya Kumbayani dari Indriya-Satwamayu, seorang Pendeta Hindu Shiwa, yang akhirnya mereka menikah. Pada masa ini terjadilah sinkretis antara Hwuning dan Hindu-Shiwa.
415M, Seorang Sramana Buddha bernama Pha Hie Yen dari Nalandha India yang akan pulang ke Tiongkok, terkena badai dan kapalnya berlabuh di Pucangsula. Dhatu Hang Sam Badra menerima Sramana Hwesio Pha Hie Yen sebagai tamu dan mereka akrab. Terjadilah sinkretis antara Hwuning dan Buddha.
415M, Tampuk pemerintahan Dhatu Hang Sam Badra digantikan putrinya, Dattsu Si Ba Ha.
416M, Dattsu Si Ba Ha mengesahkan Undang-undang Endriya pra Astha, ilmu yang diajarkan oleh ayahandanya berupa 8 Pranatan.
425M, Eyang Hang Sam Badra mangkat.

Dalam rentang waktu 385M-425M bahkan sebelum itu, kemungkinan Kapercayan Hwuning yang dipimpin oleh Nini Ampu berkembang pesat dan berpondok di Pundhèn Tapaan. Sebab, ketika Hang Sam Badra wafat, tilas pemujaannya sudah ada di Bukit Tapaan. Namun, Hang Sam Badra baru membuka lahan permukiman di lereng barat Peg.Lasem pada tahun 385M dan menjadi permukiman ramai kisaran 15 tahun setelah dibukanya lahan (385+15=400M).
Pada tahun 387M (2 tahun setelah membuka lahan) beliau mengajarkan Hwuning kepada para Wêgig dan Pandhita, berpondok di Gunung Tapaan.
Kemungkinan, beberapa muridnya adalah kaum Perempuan yang nantinya menjadi Nini Ampu dan memimpin suatu upacara keagamaan bersama pemudi-pemudi. Menjalankan kepercayaan suci, dengan ubarampe-ubarampe yang sakral, di antara susunan geometris bebatuan yang mengandung makna filosofis dan kosmis, berdoa bersama dalam suasana hening dan alam sekitar Tapaan yang hingga detik ini masih asri.

image

Pemandangan asri di sekitar Pundhèn Tapaan. Nampak Bukit Congol di sebelah utara

Ya, sementara itu yang dapat saya simpulkan. Semoga bermanfaat dan saya tunggu kritik serta pendapat Anda. Hehehe 🙂

image

Mentari tenggelam, dipotret dari ujung barat Gunung Tapaan

Salam Begja Raharja Rahayu Nir ing Sambikala.

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Nini Ampu, peran wanita dalam Sistem Keagamaan

  1. Reblogged this on Ivan Trifandianto and commented:
    Sungguh menarik

  2. gilangsuryas berkata:

    Ada pendapat lain menyebutkan bahwa terdapat perbedaan antara Clorot dan Dumbeg adalah pada pembungkusnya, clorot dari daun pisang dan dumbeg dari lontar/janur. Namun ada pendapat yang mengatakan ini sama. 🙂

  3. dan saya sudah pernah melihat itu… yaitu barusan :v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s