Kota Lasem zaman Dewi Indu: sekilas penggambaran tatakota, perumahan, dan taman

Disadur dari Kitab Carita (Sêjarah) Lasêm karangan Raden Panji Kamzah 1858 M.

Pada tahun 1273 Çaka, Negara Lasem (salah satu Negara-provinsi di Negara Majapahit) dipimpin oleh seorang Raja-perempuan bernama Dewi Indu (Duhitendu Dewi), beliau bergelar Bhre Lasem I Dewi Indu Purnamawulan. Suami beliau adalah seorang Dhang Puhawang sekaligus seorang Bhre di Mataun yang bernama Pangeran Rajasawardana, atau rakyat Lasem biasa menjulukinya Raden Panji Maladrêsmi.

Pada zaman pemerintahan Dewi Indu, Lasem dijadikannya negeri besar yang terkenal, walaupun negeri ini di bawah imperium Wilwatikta/Majapahit. Beliau adalah kerabat dari Prabu Hayam Wuruk. Daerah ibukota Lasem nampak asri dan teduh, sebab banyak pepohonan yang tertata rapi di sepanjang jalan. Kraton-Ndalêm berada di bumi Kriyan, sedangkan di sebelah tenggaranya dibangun Tamansari Balékambang Kamalaputri. Di sana terdapat banyak sekali pohon Kamal-tropong dengan buahnya yang berjejalan dan ranum. Di sepanjang jalan raya, ditanami pohon Sawo Kêcik, sementara di setiap pojok Perempatan dan Pertigaan jalan ditanami pohon Wringin (beringin).
Selain itu, pada setiap latar di depan rumah terdapat pohon Krambil-gadingpuyuh sepasang yang buahnya banyak sekali berjejalan, juga disekitarnya dihiasi bunga beraneka ragam, seperti Mawar, Mêlathi, Gambir, Kêtongkèng, Arum Dalu, Kêmuning, dan Pacar Printhil. Di samping kanan-kiri rumah terdapat pohon Sawo Manila, Mangga Golèk, Jambu Lumut, dan juga Jambé.

Sementara itu, pada pekarangan di pedesaan, terdapat pohon Nangka, Blimbing, Krambil, dll. Di pinggir ladang kebun maupun tegalan ditanami jenis pohon Bogor (Tal) yang menghasilkan lêgèn (nira), siwalan, maupun lontar (ron Tal). Lontarnya bisa dimanfaatkan untuk media menulis Carita, Pustaka Sabda, maupun Kidung Kakawin. Sama seperti peran kertas pada zaman sekarang. Lêgèn/niranya bisa diolah menjadi gula maupun minuman. Di sela-sela deretan pohon Bogor itu, ditanami pohon Randu yang dililit tanaman Suruh. Nampak hijau subur. Suruh tersebut digunakan untuk jamu sakit perut.

Di rumah-rumah para pembesar istana, bangunan depan berupa Sinom dan belakangnya berupa Joglo. Terbuat dari kayu jati dihiasi ornamen bunga.
Di rumah-rumah para Kawula Nara-karya, bergaya dara-gêpak dengan pagar gêdhèg (anyaman bambu) dari bambu ori nam-naman limang pakan lan slêrané, melambangkan Pancawignya: Gotrah, Pêkah, Pomah, Krandhah, Pamréntah.
Pada Kraton-Ndalêm, umpak saka-guru watu sêlad ditatah dan diukir ornamen bunga Tunjung, pada bagian langitan-pênuwun tampak khas berupa dhadha-pêksi tumpang-sari sap pitu, ganja pipilan parang curi lumah kurêp, gêbyog diplisir pradan diukir pênding mlathi sêlangsang. Batu bata yang digunakan berbentuk persegi panjang lebar dan halus, atap rumah berbahan sirap atau ijuk, bubungannya ditutup gêndhèng (terakota) saling berkait. Mungkin sistemnya mirip genting di zaman sekarang yang ditata saling berkait seperti puzzle.

Dari penggambaran tersebut, mungkin terlintas dipikiran kita mengenai betapa rumitnya penataan tanaman-tanaman di sekitar kehidupan di Kerajaan Lasem mulai dari Jalan Raya, Keraton, hingga Pedesaan.
Di sepanjang ini ada ini, di depan itu ada itu dan di sebelah ini ada ini. Penataan itu mungkin tak hanya kebetulan dan ditata tanpa makna. Pasti memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Lasem pada masa itu. Mungkin juga terkait segi estetis, ekonomis, religi maupun filosofis.
Kita ambil contoh bunga-bunga di taman-sari. Mungkin kita merasa aneh jika terdapat Taman-sari tanpa dihiasi deretan tanaman bunga yang beraneka ragam. Atau mungkin, bunga di pelataran rumah juga sering dipetik untuk digunakan sebagai ubarampe sesaji bagi pemeluk Agama Syiwa atau bunga Tunjung maupun Beringin yang tak bisa lepas peranannya bagi kaum Buddha, sebab pada zaman itu masyarakat Lasem adalah pemeluk agama Buddha ataupun Syiwa. Atau mungkin Syiwa-Buddha.
Kita ambil contoh lagi yaitu Pohon Bogor yang ditanam berderet pada pinggir ladang. Selain bernilai ekonomis, daunnya pun berguna bagi para Mpu untuk menulis karya sastra.
Sawo kecik di pinggir jalan, ini mirip program penghijauan jalan pada masa sekarang yang efeknya bisa kita lihat di sepanjang jalan raya Lasem. Namun sekarang adalah pohon blodhokan, bukan sawo kecik. Zaman dulu sudah canggih ya? Hehehehe… Bagi masyarakat Jawa, sawo kecik memiliki makna yaitu Sarwo Bêcik, sedangkan jalan bermakna Perjalan hidup. Mungkin alasan digunakannya Sawo Kecik sebagai penanda tepi jalan adalah agar dalam kehidupan ini, kita selalu menebar kebaikan, laku bêcik.
Selain itu, dari segi arsitektur bangunannya, kita bisa membayangkan bahwa saat itu bangunannya masih tradisional, menggunakan bahan-bahan alami dan mungkin tanpa paku maupun kawat. Hehehe…
Bagian-bagian bangunan yang memiliki nilai filosofis tersendiri, atap sirap, atap terakota, dinding bata yang lebar, dinding anyaman bambu yang rumit, bentuk atap yang unik, saka-guru yang khas, maupun ornamen-ornamen pada bangunan rumah. Ini mirip seperti penggambaran rumah-adat pada zaman Majapahit yang tertuang di relief-relief candi peninggalan masa Kerajaan Majapahit. Mungkin ini trend bangunan pada masa itu. Tampak klasik, unik, dan selaras dengan alam. Ini bukti nyata bahwa nenek moyang kita sangat menghargai alam dan relasinya dengan tempat tinggal. Rumah tradisional, dengan hiasan tanaman bermacam-macam, serta pepohonan tertentu di sepanjang jalan maupun persimpangan. Sungguh unik.

Kita hanya bisa menikmati keindahan itu semua melalui kisah, yang mungkin akan kita kisahkan juga kepada anak cucu kita, tentang Kota Lasem yang benar-benar Asri, tentang Kota Lasem yang “dulu” penuh semerbak bunga mewangi.
Sekian. 🙂

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s