Pundhèn Tapaan, Tempat Peristirahatan Para ‘Sesepuh’ Lasem dari Masa ke Masa

image

Puncak Argopuro dilihat dari Gunung Tapaan

Pundhèn Tapaan, atau kadang orang-orang menyebutnya sebagai Pundhèn Santibadra maupun Pasraman/Pratapan Pamulang, terletak di Gunung Kêndhil/Gunung Tapaan/Gunung Ngargosoka, sebelah barat dari Gunung Tluèng Sendangcoyo Lasem. Ada yg menyebut juga bahwa Gunung ini masih ikut Dukuh Ngasinan dan ada yang menyebut daerah ini masuk Dukuh Tluèng. Di Dukuh Tluèng ini terdapat Vihara yang megah yaitu Vihara Ratanavana Arama atau masyarakat Lasem menyebutnya Vihara Tluèng.

Kembali ke bahasan awal, Pundhèn Tapaan ini sekilas tidaklah terkesan menakjubkan. Hanya bukit yang menjorok ke barat, dengan bangunan kecil berwarna putih, sekelilingnya terdapat batu andesit seperti meja kecil yg berjajar di timur cungkup, terdapat cungkup usang dari kayu & beratap genteng tak terawat, kandang sapi di sebelah tenggara, gubug kecil di timur dan lahan pertanian kecil di barat.
Jalan aksesnya pun cukup sulit.
Dari ujung bukit kita bisa melihat lansekap kota Lasem lengkap dengan daerah persawahan, hutan jati, beberapa bukit di utara dan selatan, perkampungan, pusat kota, lahan tambak yang terbentang luas, pelabuhan, muara Sungai Lasem, maupun Laut Jawa.
Mungkin inilah sebab mengapa dulunya tempat ini digunakan untuk Asrama Membabar Ilmu, Tempat Pengajaran Agama, dan kemungkinan sebagai titik untuk mengatur tatakota Lasem.

image

Perabuan di dalam cungkup Pundhèn Tapaan

Pada Gambar di atas, terukir nama-nama beberapa tokoh yang berperan di Lasem, yaitu:

1. Eyang Kie Seng Dhang Dhatu Tanjungputri, meninggal di tahun 30 Jawa-Hwuning (1 Jawa-Hwuning = 230 SM). Beliau adalah Ketua rombongan yang mendarat di Tanjungputri (Timur-Laut dari Gunung Lasem) dan diangkat menjadi Dhatu di sana, membawahi daerah Pegunungan dan Pesisir Ngargapura dari Pandhangan sampai Teluk Lodhan. Pada masa ini, daerah Lasem dan sekitarnya berbentuk pulau yang disebut Nusa Kendheng dengan Gunung Ngargapura sebagai puncak tertingginya. Eyang Kie Seng Dhang meninggal dan awu-layon (abu jenazah) beliau dikubur di dekat “Tuk” atau sumber mata air yang membentuk telaga, diberi tanda oleh masyarakatnya berupa batu yang mencuat dibawah pohon Wringin-Brahmastana. Lalu masyarakat menyebut sumber mata air di mana tempat dengan sebutan “Sendhang” untuk mengenang Sesepuh mereka itu. Kemudian dibuatlah Reliqe Kie Seng Dhang dan dirawat anak cucunya, lalu dikubur di Gunung Tapaan.

2. Eyang Hang Sam Badra Dhatu Pucangsula, wafat di tahun 425 M dan awu-layonnya dikubur di Gunung Tapaan bersama Reliq leluhurnya, Kie Seng Dhang. Dia membangun Kedhatuan Pucangsula yang terletak di lereng barat Peg. Lasem. Selain itu, beliau adalah pendeta Kapercayansuci Jawa-Hwuning dan mengajarkan ajaran ini kepada siswa-siswanya di Bukit Tapaan dan wafat pun ia ditempatkan di sana.

3. Eyang Si Ba Ha Dattsu Pucangsula, meninggal di tahun 445 M dan awu-layonnya dikubur bersama sesepuhnya di Pundhen Tapaan. Beliau adalah putri Dhatu Hang Sam Badra. Putri Hang Sam Badra yang menjadi Penguasa adalah Dewi Si Ma Ha yang tinggal di Pulau Muria, masyarakat menyebutnya Ratu Simah. Sementara adik Ratu Simah/Shima tetap meneruskan memimpin negeri ayahnya, ia bernama Dhatu Si Ba Ha yang juga dikenal sebagai Dewi Sibah Dattsu Pucangsula.

4. Eyang Rangga Widyabadra, beliau adalah Mpu yang dipercaya mendirikan Kota Lasem, wafat di tahun 920 M. Nama asli beliau adalah Ki Wêlug dan mempunyai kakak bernama Ki Wêkêl. Mereka berdua adalah orang cerdas yang awalnya hidup sebagai petani. Kedua orang ini adalah orang Kanung (Sengkaning Gunung) yang membawa warga bukit Criwik dan Sindawaya untuk turun ke dataran rendah di barat Peg.Lasem. Rombongan dipimpin oleh Ki Wêkêl. Ia menjadi Tani-pokol di sebelah barat Sungai Lasem. Sementara Ki Wêlug menjadi Tani-ngothèk dan bertempat di timur Sungai Lasem. Ki Wêlug yang cerdas ini mendapat gelar Mpu Widyabadra dan menjadi seorang Rangga (Pemimpin Karya). Ia membuat desa yang bernama Karanggan, setelah desanya ramai, ia membangun Kota Lasem dengan candrasengkala Akarya kombuling manggala (804 Çaka = 882 M). Setelah wafat di tahun 920 M, awu-layonnya di kuburkan bersama leluhurnya di Bukit Tapaan.

5. Eyang Mpu Santibadra Tumenggung ing Wilwatikta, beliau wafat pada bulan Badrapada di tahun 1449 Çaka. Beliau adalah seorang Pendeta Buddha dan merupakan orang penting di Negara Majapahit. Saat Majapahit terjadi pemberontakan di tahun 1400 Çaka, beliau melarikan diri dan pulang ke Lasem. Beliau menjadi guru dengan mengajarkan Ilmu Endriya Pra Astha kepada para pendeta Kanung dan membuat kitab Pustaka Sabda Badra-Santi. Pada tahun 1527 M, beliau wafat dan awu-layonnya dikubur bersama leluhurnya.

Dari kelima sesepuh tersebut, Mpu Guru Pangeran Santibadra Tumenggung ing Wilwatikta lah yang paling dikenal di masyarakat. Minimal setahun sekali, terutama pada saat Waisak, banyak peziarah dari luar kota maupun dalam kota yang berdoa di sini. Di Pundhèn yang sederhana ini, dengan jalan aksesnya yang sulit dan melewati hutan di barat Vihara Tluèng. Namun di sini, suasana tenang, jauh dari keramaian. Tempat sakral yang dulunya juga dipercaya sebagai Situs Nini Ampu, sebuah kepercayaan lama yang menjadi cikal bakal kuliner Dumbêg dan Jadah-wadon, sebagai perlambang kesuburan, lambang laki-laki dan perempuan. Sebuah bukit yang menyimpan banyak cerita. Ya, disinilah, dimana berdiri sebuah pundhèn sederhana, Pundhèn Tapaan.

Refrensi yang saya gunakan:
1. Kitab Pustaka Sabda Badra-Santi, karangan Mpu Guru Pr.Santibadra.
2. Kitab Carita (Sêjarah) Lasêm, karangan Mpu R.Panji Kamzah dan dilengkapi oleh Mpu R.Panji Karsono.
3. Kitab Sêjarah Kawitané Wong Jawa lan Wong Kanung, karangan Mbah Guru.
4. Cerita tutur masyarakat Lasem.

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s