Lasem dalam Kitab Negarakrtagama

Lasem dalam KitabNegarakrtagama

Kitab Nagarakertagama

 

Lasem, sebuah kota kecil di ujung timur laut Jawa Tengah ini kerap tercatat namanya di kitab-kitab kuno, salah satunya pada Kitab Negarakrtagama. Dalam Kitab Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya karya Slamet Mulyana, tercatat kisah Dewi Indu dan Rajasawardana.

Pada Pupuh V Ayat 1 disebutkan, “Adinda Baginda raja di Wilwatikta: Puteri jelita, bersemayam di Lasem Puteri jelita Daha, cantik ternama Indudewi Puteri Wijayarajasa”.

Begitu juga pada Pupuh VI Ayat 1, “Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala”.

Sementara itu pada Pupuh VI Ayat 3 disebutkan, “Bhre Lasem menurunkan puteri jelita Nagarawardani bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra”.

           

Bpk. (Alm) Slamet Widjaja, seorang Sejarawan Lasem pernah mengatakan bahwa Lasem, khususnya Desa Kajar, adalah salah satu daerah terpenting dari Kerajaan Majapahit. Ini dikarenakan Desa Kajar tersebut merupakan tempat memberikan pengetahuan serta ajaran agama dan moral kepada para pejabat, panglima, dan prajurit Kerajaan Majapahit.

Beliau juga pernah mengatakan bahwa kata ‘Kajar’ itu sendiri merupakan kependekan dari ’Ka’ yang berarti kaweruh (pengetahuan) dan ’Jar’ yang berarti ajaran.

 

 

Menurutnya, pada tahun 1354 Raja Majapahit Hayam Wuruk berkunjung ke Lasem dan Desa Kajar. Sebagai upaya untuk mengenang kunjungan itu sekaligus sebagai prasasti tanda daerah kekuasaan Majapahit, Bhre Lasem membuat ukiran telapak kaki Hayam Wuruk pada sebuah batu andesit di lereng Gunung Kajar. Sampai sekarang, ukiran telapak kaki itu masih ada dan warga Desa Kajar meyakini ukiran itu sebagai bekas telapak kaki Hayam Wuruk. Warga kerap menyebut batu telapak kaki itu sebagai Watu Tapak.

Bapak Slamet Widjaja juga menuturkan, peninggalan-peninggalan lain dari Kerajaan Majapahit di daerah Lasem, seperti Goa Tinatah, Kursi Kajar, dan Lingga Kajar, juga menunjukkan peran penting Desa Kajar selama Majapahit berkuasa. Goa Tinatah merupakan dua goa yang terletak di Gunung Kajar. Goa pertama merupakan tempat menyepi pejabat atau panglima Majapahit. Goa itu hanya muat untuk satu orang. Goa kedua merupakan tempat para prajurit yang dibawa pejabat atau panglima Majapahit itu berjaga-jaga. Goa kedua itu dapat memuat sekitar 15 orang, seperti yang diuraikan oleh Bapak Slamet Widjaja.

“Setelah menyepi selama beberapa waktu di goa tinatah, pejabat atau panglima Majapahit itu disucikan dengan air Kajar. Dia duduk di sebongkah batu yang mirip kursi. Warga pun menyebut kursi itu sebagai Kursi Kajar,” katanya.

Selain itu, untuk menghargai Desa Kajar sebagai tempat yang membawa kesuburan bagi daerah lain karena banyak sumber mata air, Bhre Lasem juga membuat lingga berhuruf pallawa di dekat lingga pada zaman batu dan salah satu mata air Kajar.

“Namun, lingga tersebut tak terawat, sehingga huruf pallawa pada lingga tersebut tidak jelas lagi terbaca,” katanya.

Ketua Masyarakat Sejawaran Indonesia Kabupaten Rembang Edy Winarno juga mengatakan, pihaknya sudah mendokumentasikan Situs Majapahit tersebut. Dokumentasi itu merupakan salah satu referensi jika sejumlah pihak membutuhkannya.

“Kami mengusulkan kepada pemerintah kabupaten (pemkab) setempat untuk menjadikan Situs Majapahit di Lasem sebagai laboratorium sejarah. Situs itu dapat pula menjadi tempat wisata penyusuran jejak-jejak peninggalan Majapahit di Lasem,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang Noor Effendi, mengatakan, banyak masyarakat tidak mengetahui secara detail kisah sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit di kawasan Gunung Kajar, Pegunungan Lasem.

“Meski demikian, kami yakin sebagian kecil masyarakat masih hafal nama dan letak lokasi peninggalan-peninggalan itu,” katanya.

Ia pun berjanji mengomunikasikan usulan masyarakat sejarawan Indonesia kabupaten setempat itu kepada pemerintah kabupaten setempat.

“Usulan menjadikan Situs Majapahit di Lasem menjadi laboratorium sejarah jelas merupakan gagasan jangka panjang. Namun, dalam waktu dekat, kami akan mengemas sebuah paket wisata sejarah yang tidak hanya melibatkan Situs Majaphit di Lasem, tetapi juga Situs Megalitikum Terjan, dan Situs Plawangan,” kata dia.

Sumber: http://syamarsul.blogspot.com/2012/01/lasem-dalam-kitab-negara-kertagama.html

 

Tanggapan saya pribadi (gss), sampai sekarang belum ada aksi nyata dari Pemkab Rembang, dan masyarakat Lasem sendiri kini bertindak untuk kotanya sampai berusaha mewujudkan mimpinya menjadi Kota Pusaka Dunia (World Heritage City).

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s