Decitan Besi Tua

Ketika rembulan nampak bagai mata sabit,

Di saat besi-besi tua meraung,

Di atas jalanan nan mulus bagai rumah rayap,

Lubang tiap lubang seakan menganga mencari mangsa,

Serapat anyaman keranjang semangka,

Sesekali terlintas angin berlarian,

Dalam aroma pesisir nan anyir,

Ah, lagi-lagi besi tua ini berderet,

Melambat beriringan dan berdecit,

Jeritan klaksonnya nan lirih,

Selirih petir yang mengusap mesra tiang listrik,

Sesunyi decitan balon yang mengusap mesra muka cermin,

Sungguh elok nan syahdu,

Pantura Lasem tak pernah sunyi bagiku…

 

(Lasem, 05.02.14)

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s