PASANG SURUT USAHA BATIK TULIS LASEM

Berita Rembang

Industri batik Lasem telah mengalami masa pasang surut. Puncak kejayaan batik Lasem terjadi pada sekitar akhir abad ke-19 sampai dengan tahun 1970-an. Industri batik yang cukup besar di Hindia Belanda saat itu adalah batik Surakarta, batik Yogyakarta, batik Pekalongan, batik Lasem, batik Cirebon, dan batik  Banyumas.

Pemasaran batik Lasem tidak hanya di wilayah Indonesia saja, tetapi juga meluas sampai ke wilayah Asia Timur terutama Jepang bahkan sampai ke Suriname. Sampai tahun 1970-an, industri batik Lasem menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat Lasem dan masyarakat di desa-desa sekitarnya. Sekitar 90 % penduduk Lasem khususnya kaum perempuan bekerja sebagai pengrajin, pengusaha, dan pekerjaan lain yang terkait dengan batik. Namun saat ini hanya tinggal 10% penduduk yang masih bekerja sebagai pembatik. Kemerosotan ini disebabkan oleh jumlah modal yang kecil, sehingga banyak pengusaha batik bangkrut dan menutup usahanya. Krisis moneter yang terjadi sekitar tahun 1997  berdampak pada industri batik Lasem yang semakin lesu. …

Lihat pos aslinya 153 kata lagi

Iklan

Tentang gilangsuryas

ndang nuliso sak urunge nulis iku dilarang!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s